selibat dan agama
kemaren, walau cuma sehari dari 3 hari, gw ikut acara family day gereja gw. Acaranya semacam outbond di danau Lido, Sukabumi. DI acara itu, berkumpul macam2 orang dengan range usia yang sangat luas (dari anak2 ampe lansia bo'!). Kita dibagi jadi beberapa kelompok dan bersenang2 di sana. Ada latian penyelamatan di airnya lo.. asek abes dah,,
Di sana, kita didampingi oleh 23 frater. Frater itu adalah istilah untuk orang-orang yang mau jadi pastor. Dan karena mereka mau jadi pastor, mereka tidak untuk di-jatuhcinta-i atau di-pdkt-i. (sayang, padahal ada yang ganteng,, hihihihi). Soalnya, pastor kan tidak menikah (selibat).
Gw sekarang juga sedang bervisi untuk hidup selibat. Sama kayak frater2 ini. Bedanya, gw pingin selibat salah satunya karena gw rasa itu adalah sebuah kontribusi maksimal yang bisa gw lakukan untuk menekan populasi di bumi yang sempit ini. Bila digabung dengan alasan2 lain, let say it's for an abstract humanity reason.. haha..
Tapi kalo frater2??
Sama juga sih.. [doeng..jadi apa bedanya coba,, :|].
Mereka selibat karena alasan yang ga jauh beda ama gw. Yang gw tangkep, ketika mereka berani jadi pastor maka mereka sudah menyandang misi2 kemanusiaan yang lebih wah dan lebih macho. Kenapa? Karena Tuhan Yesus adalah pahlawan kemanusiaan. Menjadi pelayan Tuhan, artinya menjadi pelayan kemanusiaan juga kan?
Tadi malam gw harus segera pulang karena papa ga sehat. makanya gw belum sempet nanya ke para frater (ganteng.. :p) ini. Kalau ternyata Tuhan itu ga ada, kalau ternyata mereka ga mengenal Yesus, apakah mereka mau jadi pelayan kemanusiaan dan hidup selibat?
sekip
Gw sering bertanya kenapa Tuhan membiarkan agama itu ada sedemikian rupa sehingga kita begitu terkotak-kotak. Tapi tadi malam, ketika gw ikut misa dan melihat betapa banyak orang menikmati puji2an dan doa, gw rasa manusia membutuhkan agama. [termasuk gw, terlepas dari keanehan dan ketidaksregan gw akan banyak hal] Coba bayangkan dunia tanpa agama (atau kepercayaan apapunlah).
.
.
.
[hampa ga sih?]

Recent Comments