Tiba-tiba Naya ingin sekali memiliki binatang peliharaan. Minggu lalu di sekolah, teman Naya, Andi bercerita tentang anjing pudel kepunyaannya yang baru dibelikan orangtuanya. Andi sangat menyayangi anjing itu. Dia selalu menceritakan perilaku anjingnya itu kepada teman-temannya setiap hari. “Betapa enaknya Andi. Ayah ibunya dapat membelikan dia anjing sehingga dia punya teman bermain yang ada setiap saat untuk menghiburnya,” pikir Naya. Setiap kali Andi menceritakan kisah anjing kesayangannya itu, Naya iri mendengarnya.
Naya tahu dia tidak mungkin memiliki anjing. Jangankan anjing, untuk makan sehari-hari saja Naya tahu ibunya sudah sangat pusing memikirkannya. Tapi Naya ingin sekali memiliki teman bermain, walau pun itu cuma binatang peliharaan. Naya tidak punya banyak teman di sekolah atau pun di rumah dan Naya juga tidak punya kakak atau adik. Naya hanya tinggal berdua dengan ibunya. Naya tidak pernah bermain-main sepulang sekolah. Naya jarang keluar rumah. Selain karena banyak tetangga yang tidak menyukai ibu Naya sehingga melarang anak-anaknya bermain bersama Naya. Namun bila hanya tinggal di dalam rumah saja, Naya juga merasa tidak nyaman. Kadang Naya merasa paman Nono di sebelah mengintipnya ketika berganti pakaian lewat lubang kecil pada papan tripleks yang menjadi pembatas rumah mereka. Apalagi kalau ibunya pergi dan Naya sendirian di rumah. Naya sering merasa paman Nono dari sebelah mengawasinya. Naya amat kesepian. Naya butuh seorang sahabat walaupun itu hanya seekor binatang peliharaan.
Naya ingin sekali memiliki binatang peliharaan. Hal itu masih dipikirkan oleh Naya ketika berjalan pulang dari sekolah siang itu. “ Kalau aku punya anjing, dengan apa aku memberinya makan? Andi bilang, makanan anjingnya dibeli di toko khusus di Blok-M. Pasti harganya mahal. Lalu bagaimana kalau dia buang air sembarangan. Tetangga-tetangga pasti akan lebih sebal kepada Ibu. Dan di manakah dia akan tidur. Aku dan Ibu saja sudah berbagi tikar untuk tidur dengan susah payah setiap malam. Bagaimana kalau ditambah seekor anjing? Ah, aku tidak mungkin punya anjing.” Naya terus berjalan.
Siang itu benar-bernar amat menyengat. Naya merasa perjalanan dari sekolah ke rumahnya menjadi dua kali lipat lebih jauh. “Mungkin karena aku terlalu banyak memikirkan anjing. Mungkin sebaiknya aku berisitirahat dulu di taman,” pikir Naya ketika ia sampai di depan taman karang taruna. Sebenarnya kurang tepat disebut taman. Rumputnya terlalu tinggi, tempat duduknya lebih menyerupai batu yang sudah dicorat-coret oleh tangan-tangan jahil. Perosotan dan ayunan yang ada sudah berkarat dan sebagian sudah dililiti tanaman. Lalu di sudut taman tampak asap mengepul tebal yang berasal dari tumpukan sampah terbakar. Ada sebuah pohon besar di sudut lain taman. Walaupun dipenuhi oleh lalang dan sampah, tapi itulah satu-satunya tempat yang dapat memberikan keteduhan. Naya pun memutuskan untuk berteduh di sana. Ia melompati pagar besi yang sudah bengkok di depannya dan berjalan menuju ke pohon itu. Naya duduk bersandar di bawah pohon itu. Tiba-tiba Naya merasa amat sangat kesepian. Andai Naya punya teman. Sambil memejamkan mata Naya bergumam, “Tuhan, Naya ingin punya teman. Berilah Naya teman, Tuhan.”
Entah sudah berapa lama Naya tertidur di bawah pohon. Ketika Naya terbangun, tiga ekor kupu-kupu hitam terbang di sekelilingnya. Pertama-taman Naya tidak menyadarinya. Namun ketika Naya beranjak meninggalkan pohon itu dan berjalam pulang, ketiga kupu-kupu itu terus mengikutinya. Bahkan ketika Naya masuk ke rumahnya, kupu-kupu hitam itu terus mengikutinya. Naya heran, dan kemudian duduk memandangi kupu-kupu yang berterbangan itu. Mereka seperti menari-nari, kemudian memebentuk formasi yang aneh namun indah dengan sayap-sayap mereka yang panjang bergelombang. Mereka menyanyikan lagu yang amat indah sambil bergerak ke sana kemari. Benar, Naya yakin mereka bernyanyi.. Naya pun tersenyum senang. Ia kemudian berdiri dan berusaha menyentuh salah satu dari mereka dengan jarinya. Kupu-kupu itu pun hinggap di ujung jari Naya dan yang lain terbang mengitarinya. Amat menyenangkan. Mereka seperti manusia. Mereka tahu bagaimana cara membuat Naya tertawa. Mereka seolah mengerti apa yang Naya katakan dan membalasnya dengan bisikan lembut lewat gerakan-gerakannya. Mereka membuat Naya merasa senang. Tidak pernah Naya merasa sesenang ini. Tidak pernah Naya merasa sedekat ini dengan seseorang melebihi rasa akrabnya dengan kupu-kupu hitam ini. Mereka sseperti manusia. Dan Naya seolah-olah telah mengenal mereka lama sekali walaupun mereka tidak berbicara kepada Naya.
Entah sudah berapa lama mereka bercengkrama sampai tiba-tiba ibu Naya pulang. Kupu-kupu itu terkejut kemudian bersembunyi di balik badan Naya.
“Ibu! Aku punya binatang peliharaan! Lihat aku punya kupu-kupu!” Naya segera berseru kegirangan menyambut ibunya sambil menunjukan kupu-kupu hitamnya. Kupu-kupu seolah tahu bahwa ibu Naya adalah orang yang Naya sayang. Mereka pun juga mengitari Ibu dengan gerak yang lincah.
Tapi Ibu seperinya tidak melihat apa-apa. “Naya, Ibu capek, jangan ganggu Ibu dengan cerita khayalanmu.” Kemudian Ibu memandang ke sekeliling ruangan dan menatap Naya, “Tidak ada kupu-kupu di manapun dan kamu tidak punya binatang peliharan apapun.” Lalu Ibu menaruh tas dan melepas sepatunya yang sudah lusuh, setelah itu duduk di atas tikar dan memejamkan mata. Naya tidak berani mengganggu lagi. Ia tahu itu artinya Ibunya sedang kelelahan. Tak lama kemudian Ibu sudah tertidur di atas tikar.
“Ibu terlalu lelah untuk mendengar cerita dan untuk melihat dengan benar bahwa ada kupu-kupu yang mengitarinya. Besok akan kutunjakan lagi,” pikir Naya sambil duduk di samping ibunya. Kupu-kupu mengajak bermain-main lagi. Dan mereka pun berbincang-bincang sampai akhirnya Naya lelah dan tertidur.
--------------------------------
Hari-hari Naya pun dihiasi oleh kupu-kupu. Dengan bersemangat setiap hari Naya menceritakan kupu-kupu kesayanggnya pada teman-temannya. Pertama-taman Naya hanya bercerita kepada satu orang saja, namun entah bagaimana cerita tentang kupu-kupu Naya menyebar, sehingga setiap hari banyak yang datang kepada Nya minta diceritakan. Tapi beberapa temannya ada yang tidak percaya. Suatu hari ketika Naya sedang bercerita, mereka mendatangi Naya.
“Naya, kamu tukang bohong! Mana ada kupu-kupu yang bisa bernyanyi? Kamu jangan bodoh-bodohin teman-teman yang lain dong!”
“Iya benar, kupu-kupu itu tidak bisa bernyanyi, apalagi menari. Naya tukang bohong!! Lagipula, kupu-kupu tidak bisa dipelihara. Apa makanan Kupu-kupu? Di mana kupu-kupu tidur? Memangnya kamu bisa menyediakannya? Di toko binatang saja tidak ada.” Naya terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Tuh kan, kamu ga bisa jawab. Dasar tukang bohong!” Sahut teman naya yang lain.
“Tidak. Aku tidak bohong. Kupu-kupu itu bisa bermain-main denganku. Mereka bias bernyanyi. Mereka juga bias menari. Kalian harus melihatnya! Aku tidak bohong,” Naya berteriak panik.
“Bilang saja sebenarnya kamu iri dengan anjingnya Andi. Lalu kamu mengarang cerita bohong supaya kamu juga punya hewan peliharaan dan kamu bisa populer seperti Andi.”
“Iya. Benar! Naya sebenarnya iri pada Andi. Kalau memang tidak bisa beli anjing, ngapain sok-sok melihara kupu-kupu??! Semut aja sekalian dipelihara!” sahut teman lainnya.
“Hahahaha……” tawa teman-teman Naya membahana.
Akhirnya tidak ada satu pun teman Naya yang percaya. Naya sedih. Naya malu. Naya marah. Naya kesal. Naya tidak tahan lagi. Naya berlari keluar kelas secepat-cepatnya. Walupun bukan jam pulang, Naya berlari keluar gerbang sekolah. Naya tahu seharusnya dia tidak boleh melakukannya. Ibu pasti marah kalau tahu. Tapi Naya tidak peduli. Naya terus berlari sambil berlinangan air mata. Ia begitu sedih dan marah karena teman-temannya tidak percaya. Begitu sampai ke rumahnya, Naya segera masuk mencari kupu-kupu hitamnya. Kupu-kupu itu masih di sana, di sudut ruangan rumah Naya. Naya merasa sedikit lega karena kupu-kupu hitamnya tidak menghilang. Memang paginya Naya sempat membisikan kepada kupu-kupu untuk tidak ke mana-mana selama Naya pergi ke sekolah. Tapi kemudian Naya segera ingat mengapa Naya pulang. Naya menangis tersedu-sedu. Sebelum Naya sempat bercerita kepada kupu-kupu dalam tangisnya, kupu-kupu seolah sudah tahu semuanya. Mereka membelai rambut Naya dan menyanyikan lagu-lagu yang membuat Naya tenang. Mereka menyeka air mata Naya dengan sayapnya yang lembut dan mengelus lembut pipinya. Naya merasa tenang.
“Kupu-kupu, mengapa engkau begitu baiknya? Mengapa engkau begitu indahnya? Aku ingin bisa menari dan bernyanyi seperti kalian. Kalian membuatku tenang. Jangan tinggalkan aku, Kupu-kupu”, bisik Naya dalam ketenangannya bersama kupu-kupu dan tak lama kemudian Naya tertidur.
-----------------------------
“Naya.., bangun Naya.... Naya, Ibu ingin bicara,” suara Ibu yang lemah dan hampir tak terdengar membangunkan Naya dari tidurnya. Ia terbangun dalam keremangan cahaya petromaks. Ternyata sudah malam. Ibu sudah pulang. Wajah Ibu amat lesu dan pucat seperti biasanya. Kupu-kupu masih terbang mengitari Naya. Namun terbangnya agak sempoyongan. “Mungkin mereka juga baru bangun tidur,” pikir Naya.
“Ya, Bu..” dengan suara serak Naya menjawa ibunya. Naya segera duduk dan ibunya pun juga duduk di sampingnya. Sudah lama ibunya tidak mengajaknya berbicara berdua seperti ini.
“Naya, tadi waktu Ibu pulang, di bis Ibu betemu dengan gurumu. Katanya kamu selama seminggu terakhir terus membicarakan tenatang kupu-kupu yang bisa bernyanyi dan menari.. Dan kamu tadi pulang duluan tanpa ijin. Kamu mau coba-coba bolos? Apa-apan itu Naya?”nada suara Ibu meninggi.
Tiba-tiba Naya teringat apa yang sudah dilakukannya pada siang hari. Naya berkeringat dingin. Dia belum pernah melanggar peraturan sekolah apapun. Naya takut, jangan-jangan ibunya diperingatanlan oleh gurunya bahwa Naya menjadi anak nakal. Naya menduduk, tidak berani menatap ibunya.
“Lalu,” sambung ibunya “Tetangga sebelah mengatakan pada Ibu bahwa selama seminggu terakhir ini kamu suka berbicara sendiri sepanjang hari. Seperti orang gila.” Ibu terdiam dan kemudian nada suaranya makin tinggi.
“Ada apa dengan kamu, Nak? Kamu kan tahu, Ibu sudah dicap buruk oleh tetangga karena ibu kerja di panti pijat. Padahal ibu hanay menjadi penerima tamu, tetapi mereka berpikir yang aneh-aneh. Mereka pikir Ibu wanita gak bener. Lihat saja, kita tidak pernah dilibatkan kalau ada acara apa-apa. Dan tidak ada yang mau memberikan kontrakan rumah kepada kita. Ibu tahu kamu tidak suka tinggal di sini. Sempit, kecil. Tapi tidak ada yang mau menerima kita karena pekerjaan Ibu. Kamu juga tahu kan bapak kamu yang suka mabok-mabokan dan sekarang meninggalkan kita. Gara-gara dia nama kita semakin jelek di sini. Apalagi kalau semua orang mengira kamu gila, suka berbicara sendiri.Semua orang di sini akan mengatakan bahwa Ibu yang membuat kamu jadi gila. Kamu mau seperti itu? Sudah terlalu banyak masalah. Masalah bapakmu, masalah Ibu, dan sebentar lagi masalah kamu, Naya! Kamu mau kita diusir dari sini?” Ibu berhenti berbicara. Pandangan Ibu menerawang entah ke mana. Sepertinya Ibu sedang tidak berbicara kepada siapapun. Tidak kepada Naya, tidak kepada siapa pun. Naya memandang wajah ibunya yang terlihat lelah. Naya yakin ibunya sebenarnya sangat cantik, tapi entah kenapa yang dia lihat sekarang adalah seorang wanita yang amat kuyu dan tidak bernyawa.
“Bu, Naya tidak gila. Tapi memang benar Bu. Naya tidak bohong. Memang ada kupu-kupu yang menemani Naya bermain. Naya tidak berbicara sendiri, Naya berbicara kepada kupu-kupu. Naya tidak bohong, Bu. Lihat Bu, sekarang kupu-kupunya sedang hinggap di tanganku Bu! Naya tidak bohong Bu!” Naya berusaha meyakinkan ibunya.
Tapi ibu Naya tidak melihat apa pun di tangan Naya.Ibu memandang Naya kemudian meraih pundaknya dan membaringkan Naya ke pangkuannya sambil mengelus-elus kepalanya. Kupu-kupu pun juga turut serta hinggap di pangkuan Ibu. Kemudian Ibu menarik nafas panjang.
“Naya, Ibu tidak melarang engkau berkhayal. Tapi kamu sekarang sudah besar Naya. Jangan bersikap seperti itu. Kamu sekarang sudah kelas 5 sd.”
“Tapi Bu, kupu-kupu itu benar ada. Mereka bisa bernyanyi dan menari. Lihat Bu, mereka sekarang ada di pangkuan Ibu,” Naya berusaha menunjukan kupu-kupu yang sekarang hinggap di pangkuan ibunya.
Ibu menoleh ke pangkuannya, berharap dapat mengerti apa yang dibicarakan anaknya. Tapi yang ada hanya kepala Naya saja. Tidak ada kupu-kupu atau apa pun. Ia pun menegakkan anaknya lagi dari pangkuannya kemudian memegang tangan anaknya. “Naya, Ibu tahu kamu terlalu muda untuk mengerti betapa pentingnya orang mengaggap bahwa kamu baik-baik aja. Namun tolonglah Ibu. Bila kamu begini terus, orang-orang akan mengucilkan kita Naya! Berjanjilah pada ibu. Jangan bertingkah aneh-aneh lagi. Bersikaplah dewasa! Tidak ada kupu-kupu apa pun! Kamu tidak mau kan melihat Ibu diejek tetangga-tetangga. Kamu tidak mau kan dikucilakan di sini. Naya, kamu mau berjanji kan pada Ibu?”
Naya terdiam. Wajah ibunya yang kuyu dan lemas itu membuat Naya bimbang. Dia tahu ibunya sedang susah memikirkan nasib mereka berdua. Naya tidak mau menyusahkan Iibunya bila ia terus ngoto kepada ibunya. Naya pun mengagguk pelan walaupun hatinya mengatakan bahwa ia seharusnya meyakinkan ibunya untuk percaya bahwa kupu-kupu itu memang ada.
“Bu, tapi bolehkan kalau aku berandai-anadai untuk menjadi kupu-kupu?” tanya Nya asesaat kemudian.
Ibu tersenyum tipis dan memandang Naya. “Kenapa kamu mau jadi kupu-kupu?”
“Kupu-kupu itu indah Bu, mereka sangat indah dan mereka menghibur orang lain. Kupu-kupu baik kan, Bu? Pasti Ibu senang kalau anaknya indah dan baik hati seperti kupu-kupu.Selain itu, melihat kupu-kupu membuatku merasa tenang dan damai, Bu” Naya mengeluarkan isi hatinya dan kemudian bercerita tentang bagaimana kupu-kupu hitam membuat Naya merasa senang.
Ibu tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya mengelus rambut Naya dan berkata pelan, “Naya, kamu boleh beranda-andai menjadi apa saja. Asal kamu membuat orang lain senang. Jadi lebih baik kamu berandai-andai menjadi anak yang baik, jangan susahkan Ibu.” Ibu kemudian menatap tajam kedua mata Naya, “Naya, Tolonglah Ibu. Tepati janjimu pada Ibu. Jangan bertingkan aneh-aneh lagi”
Tetapi Naya malah balik memeluk Ibu, “Bu, aku akan menjadi kupu-kupu yang baik yang akan memberi ketenangan dan kedamaian untuk Ibu dan tidak akan menyusahkan Ibu.” Ibu hanya bisa diam saja dan memeluk balik anaknya.
Setelah beberpa lama, Ibu melepaskan pelukannya dan berkata “Itu nasi bungkus. Makanlah dulu. Ibu lelah. Ibu ingin tidur tapi kamu habiskan makanmu dulu baru boleh tidur.”
“Ya, Bu,” Naya memandang ibunya. Dan tidak lama kemudian dengkur ibunya sudah terdengar.
Nasi bungkus itu entah kenapa tidak membuat Naya lapar. Ia meletakan nasi bungkus itu dan menyentuh kupu-kupu yang sedari tadi beterbangan dan hinggap di pundaknya. Naya masih merasa aneh, mengapa ibunya tidak dapat merasakan kehadiran kupu-kupu hitam.
Ia pun mulai berbicara kepada kupu-kupu, “Sekarang aku benar-benar ingin menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu seperti kalian tidak pernah memikirkan hal-hal aneh seperti yang ibuku pikirkan. Ia memikirkan terlalu banyak hal. Aku ingin menjadi kupu-kupu baginya seperti kalian menjadi kupu-kupu bagiku. Kalian memberikan ketenteraman dan kedamaian bagiku. Aku ingin ibuku juga merasakannya.” Naya menarik nafas dalam-dalam, “Andai aku benar-benar bisa menjadi kupu-kupu, aku pasti akan memberi Ibu kedamaian dan ketenteraman.” Tiba-tiba kupu-kupu berterbangan mengelilingi Naya. Naya merasa tubuhnya menjadi sangat ringan dan nyaman. Naya pun kemudian berbaring dan mulai bernyanyi.
“Kupu-kupu yang lucu, ke mana engkau pergi?
Hilir mudik mencari bunga-bunga yang kembang.
Berayun-ayun pada tangkai yang lemah
Tidakkah sayapmu merasa lelah…..”
Suara nyanyian Naya, membuat Ibu tersadar. Sambil tetap memejamkan mata, Ibu menikmati suara anaknya. Tiba-tiba ia merasa sangat damai. Ibu tersenyum sendiri. “Kupu-kupu kecilku,” gumamnya dalam hati. Tak lama kemudian ia jatuh tertidur lagi.
-----------------------------------
Keseokan paginya Ibu terbangun oleh sebuah sapuan halus di pipinya. Seekor kupu-kupu hitam terbang mengelilinginya. Ibu tersadar dan takjub melihat kupu-kupu hitam itu. Ia segera teringat Naya dan mencari-cari Naya. Naya tidak ada di sampingnya. Ibu pun mencari Naya di seluruh ruangan dan di dapur. Sementara kupu-kupu itu terus mengikuti Ibu. Tetapi Ibu tidak menemukan Naya. Ibu mulai panik. Ia keluar dan mencari Naya. Di gang-gang sebelah utara, di gang-gang sebelah selatan, di pinggiran rel kereta api di seberang rumahnya, di sumur tempat menimba air, di bak sampah depan rumahnya, di jalan protocol samping rumahnya. Ibu mencari Naya ke mana-mana dan kupu-kupu hitam terus mengikuti Ibu. Tetapi tetap saja. Naya tidak ada di mana-mana. Ibu akhirnya kehabisan energi. Di depan rumah Ibu terduduk dengan muka pucat. Kupu-kupu terus terbang mengelilingi Ibu.
Tiba-tiba Ibu tersentak. “Kupu-kupu kecilku…. Nayaku………..” bisik Ibu. Dipandanginya kupu-kupu itu dan akhirnya kupu-kupu itu ia sentuh deng jarinya. Kupu-kupu itu hinggap dia jari Ibu. Ibu mulai merasa tenang dan damai. Dengan airmata tertahan Ibu teringat kata-kata Naya semalam.
“Bu, aku akan menjadi kupu-kupu yang baik yang akan memberi ketenangan dan kedamaian untuk Ibu dan tidak akan menyusahkan Ibu.”
Gitaditya Witono , 17 Juni 2004
Recent Comments