« November 2005 | Main | January 2006 »

perubahan yng ingin saya lakukan...

1. ingin menjadi lebih halus, kao ngomong ga teriak2..

2. ingin menjadi lebih tegar dan ga gampang nangis

3. ingin bisa menghargai hidup ini dengan tepat.. gw begitu kurang bersyukur..

masih banyak ingin2 yang lain, tapi setelah gw pikir2, mending gw simpen buat diri gw sendiri. kan malu, uda banyak2 gw tulis, ga ada satu pun yang bisa gw jalanin,,, yang jelas gw sepertinya butuh satpam yang banyak,,, dan baru gw sadari sambil menulis ini bahwa ternyata gw sdh punya buanyak bgt... hehehehe

                            

teh pahit

pernah ada yang bilang:

kalo sakit, minum teh pahit.

entah sakit apa...

kemaren seharian minum teh pahit.

ga enak banget.

tapi hari ini, sepertinya sudah sehat kembali,,

ga mau sakit lagi,, huhuhu

tugas.. tugas..

wew... tuga ini indah...
hahahaha...
jam segini man gw masih belum tertidur, memikirkan bagamana membuat artikel yang bagus,,, huhuhuhuhu...
smangat slalu..
hihihhi..

tiba2 terinspiras

HARI DI MANA SEMUA BERUBAH, HARI TERAKHIR DI MANA SEMUA DAPAT DIUNGKAPKAN SECARA JELAS

 Aku maih mengingat dengan jelas hari itu. Hari di maa pikiranku begitu ceria dan menyenangkan. Tak ada yang lebih menyenangkan dalam hidup ini daripada mengetahui betapa hidup kita itu cukup. Tidak lebih, tidak kurang. Dan itulah yang aku rasakan hari ini. Semuanya sungguh cukup. Nilai kalkulus dan fisikaku memang bukan A, tapi juga bukan E. Cukuplah. Aku memang tidak punya banyak temen, tapi aku punya beberapa yang bias kuandalkan tiap saat. Aku memang tidak punya pacar yang keren, tapi aku punya seseorang yang kukagumi yang membuatku tersenyum kalau bertemu dengannya. Aku juga tidak sekaya teman-temanku dalam hal materi, tapi aku masih bias bertahan hidup dengan sangat cukup di jaman ini, di mana harag semua barang-barang naik dengan begitu gilanya.

 Dan hari itu terasa begitu indah. Aku begitu bersemangat pergi ke kampus. Hari itu hari Kamis, di mana jadwal kuliah begitu menggila. Hanya ada istirahat satu jam, jam dua belas sampai jam satu. Sisanya, dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh malam, penuh dengan kelas, Sebenarnya hanya sampai jam 5 saja. Tapi ada dosen yang memberikan kuliah pengganti hari ini seingatku.

 Semua buku yang diperlukan sudah ada di tas. Aku memutuskan tidak membawa handphone atau dompet. Sudah akhir bulan dan pulsaku sudah tidak mampu untuk mengirimkan pesan apalagi menelfon. Jadi sia-sia bila dibawa. Dompet juga sama saja. Isinya hanya tinggal selembar kertas berwarna ungu ngejreng. Tapi tiba-tiba inget pesen mama bahwa identitas diri harus selalu dibawa supaya kalau ada razia mendakak, aman-aman saja. Maka aku mengeluarkan KTP dan KTM, lalu menaruhnya di saku depan tas.

 “Saya rasa cukup sekian. Sampai bertemu minggu depan sesuai jadwal semula.”

 Itu satu-satunya kalimat dosen yang aku ingat. Kepalaku agak pusing entah kenapa. Perasaanku juga tidak terlalu menyenangkan. Sangat kontras dengan paginya, di mana semangat juang 45 menggebu-gebu. Sekarang tanggal lima belas. Artinya, bila badanku sedang normal, tiga hari lagi aku seharusnya menstruasi. Dan berarti perubahan perasaan yang begitu drastis yang terjadi hari itu adalah normal. Itulah wanita, dengan Pre Menstruation Syndromenya yang kata orang sungguh merepotkan. Tapi sepertinya perubahan tensi yang naik turun begitu cepat selama PMS padaku semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Enam bulan terakhir ini, setiap kali PMS aku merasa normal-normal saja dan tidak menyusahkan orang dengan marah-marah yang bodoh dan konyol atau gembira yang berlebihan. Well, berarti memang ada yang lain dengan siklus kali ini.

 “Na, makan bareng yuk!”
“Ga ah, ngantuk. Pingin cepet balik.”

 Aku ingat betul, sore itu temanku sempat mengajakku makan. Tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan makanan. Ingin cepat pulang. Dan seiring kaki melangkah menuruni tangga menyusuri gedung-gedung dengan bentuk yang begitu kaku, aku memikirkan besok. Besok memang hanya ada kuliah pagi saja. Itu pun hanya dua jam saja. Tapi setelah itu, ada rapat redaksi majalah, latihan paduan suara, kumpul kelompok untuk mengerjakan tugas, rapat kepanitian kegiatan tahunan kampus. Artinya, sepertinya akan pulang malam. Atau malah menginap di kampus kalau rapatnya ngalor ngidul sampai tengah malam. Aku masih ingat benar aku merencanakn kegiatanku untuk besok dengan begitu detail.

 Dan sampailah di gerbang keluar. Sambil menunggu angkot, aku melihat ke kiri kanan. Jreng,,,  Itu dia.  Masih terekam jelas dalam ingatanku. Orang yang aku kagumi dari jauh itu sedang lewat tepat di seberangku. Aku berharap dia memanggilku. Ayo, panggil aku, menoleh ke sini dan panggil aku. Ayo.. satu.. dua.. tiga.. Hening. Dia berjalan terus. Dan doa tidak terkabul.

 Kenapa tiba-tiba jadi lapar ya. Aku mengubah rencana. Tidak jadi pulang, tapi makan dulu. Sebelah kiri depan adalah tempat makan kesukaanku. Heran, jam mkan malam begini kenapa masih sepi. MEnyeberang dengan aman, masuk, dan langsung menempat tempat duduk kesukaanku di dekat pintu.

 “Kwetiaw goreng sama jeruk panas ya neng?”
Anggukan manis dariku dan lima menit kemudian aku datanglah pesananku. Perasaan aneh tiba-tiba datang. Sungguh familiar. Perasaan ini memiliki aroma ayng sama dengan perasaan waktu aku kehilangan handphone 5 minggu yang lalu. Juga ketika aku mengalami kecelakaan mobil tiga tahun yang lalu. Bukan indra ke enam menurutku. Karena aku memang sering merasakan perasaan denga aroma seperti ini. Dan biasanya lebih sering diakhiri dengan kejadian yang normal daripada kejadian aneh atau musibah. Flashback. Satu persatu kejadian yang diawali dengan perasaan aneh seperti ini muncul di kepalaku satu persatu. Seperti menonton film. Semua begitu detail. Tiap-tiap bagiannya begitu jelas terekam.Baiklah, mungkin sulit untuk diaphami. Rasanya seperti ini. Misalnya kamu tahu rasanya jatuh. Sakit. Dan kamu sudah merasakan sakitnya sebelum kamu jatuh. Dan memang benar kamu jatuh, dan rasanya sakit. Jadi seperti merasakan sakit dua kali. Yah semacam itulah.

 Kali ini rasa sakitnya benar-benar sakit. Sampai aku menangis. Tiba-tiba air mataku sudah meleleh saja. Aku berusaha mengesampingkan pikiran bahwa rasa ini adalah firasat. Aku sering tertipu dengan firasat. Aku lebih suka menyalahkan PMS. Bila PMS dating aku kadang-kadang seperti ini. Menangis tana alasan. Dan ini bukan hal yang menyenangkan. Dan aku rada bukan hanya aku saja. Ah, kenapa perempuan harus punya PMS.

 Aku akui aku memang cengeng. jadi mungkin ini bukan salah PMS sepenuhnya. Airmata karena flsh back. Cengeng sekali.Aku sebenarnya ingin menjadi wanita yang tangguh. Yang tidak gampang menangis. Tapi sepertinya hatiku memang terbuat dari jeli, atau mungkin sutera. Lembut dan mudah hancur berkeping-keping. Lembek. Mental

tempe

. Sungguh amat wanita. Memang itu suatu kelebihan. Tapi kalau jadi gampang menangis seperti ini, sepertinya tidak begitu menguntungkan.

 Jam setengah sepuluh. Hah? Aku satu jam lebih lama di sini. Inilah yang namanya waktu yang berjalan dinamis. Ketika yang kita pikirkan hany asebuha kejadian yang berlangsung mungkin sekitar sepuluh menitan, maka waktu yang dipakai hampir du ajam. Angkot ke kosanku sudah habis kalau untuk jam segini. OK, memang harus jalan. Segera membayar dan kemudian menyeberang untuk berjalan pulang. Jalanan sudah sepi. Untung tidak hujan. Aku memaki-maki diriku sendiri karena keasikan melamun. Jalan ini rasany atidak habis. Belokan ke kiri menuju kosanku rasanya seperti mundur beratus-ratus meter jauhnya.

 “gedubrak..”

 Aw, sakit. Tangan yang begitu kekar meraba-raba kantong celanaku. Mataku langsung berusaha mencari siapa yang tiba-tiba menarikku dan mendorongku dengan begitu kasar seperti tadi. Tapi sebuah tangan yang lain menutup mataku dengan kain begitu kuat. Mulutku juga. Ok. Aku sepertinya dirampok. Tapi toh aku tidak membawa handphone atau dompet. Tasku isinya buku pelajaran. Tenang. Biarkan mereka mencari apa yang mereka mua lalu mereka akan pergi. Aku sekuat mungkin berusaha melepaskan diri dari apapun yang membekap tubuhku sedemikian rupa. Tapi sia-sia. Orang ini sepertinya besar sekali. Ayo cepat, lepaskan aku. Tidak ada apa-apa yang bias diambil. Mereka berbicara dengan bahasa sunda. Aku tidak mengerti. Kenapa mereka sepertinya banyak ya. Bau rokok.

 Aku lemas ketika aku merasakan ada tangan-tanag aneh meraba raba badanku. Aku ingin berteriak tapi tidak bisa. Memberontak, tapi tidak bisa juga. Aku lemas. Aku takut setengah mati. Tolong jangan. Tangan-tanngan itu semakin banyak, semakin liar… Firasat itu benar.. Firasat itu..

 Dan itulah hari terkahir yang dapat terekam dengan begitu detail di kepal ini.

 HARI YANG HILANG

 Aku bangun di sebuah tempat asing. Gubuk. Otak ku tidak bias mengingat apa-apa keculai tangan-tanagn itu. Kepalaku sakit dan pusing. Aku benar-benar bingng dan yang ada di kepalaku hany kata pulang. Tanpa pikir panjang aku mencari tasku yang ternyata terletak tak jauh dari tempatku tergeletak.

 Aku hanya berjalan. Aku tidak mau berpikir. Entah bagaimana aku bisa sampai di kosan. nyaman. Aku langsung mandi. Selangkanganku sakit sekali. Aku tidak mau berpikir apap pun tentang ini! Aku tidak amu memikirkan apa yang sudah terjdai. Ini hanya mimpi. Ini terlalu mirip sinetron. Aku mandi sebersih-bersihnya. Selesai mandi aku mencari handphoneku. Mengecek hari dan tanggal. Ada banyak pesan masuk dan miscall juga.

 OK. Ini hari Sabtu. Artinya aku kehilangan memori selama satu hari. Jumat. Aku bingung. Pesan yang kuterima rata-rata menanyakan aku ada di mana.

 Aku melihat ke kaca. Kaget. Ada luka entah karena apa di dahi kiriku. Sabtu tidak ada kuliah. Aku berberes lalu segera ke rumah sakit. Lukanya cukup panjang. Lebih tepatnya robek, untung perawat tidak menanyakan apa-apa.Selesai dari rumah sakit. Aku ke kampus. Seingatku hari ini ada rapat lagi.

 “ Na, lo kenapa?”
“Na, sehat aja kan?”
“Na? buset.. kenapa tu kepala?”
Aku hampir gila dengan pertanyaan seperti itu yang terus mengalir di telingaku. Gila karena tidak bisa menjawab. Gila karea tidak tahu bagaimana menjawab. Dan hari ini semuanya kacau. Aku bingung harus ke mana dan harus bagaima.  Aku tidak dapat melakukan segala sesuatunya dengan fokus.Tapi aku berusaha menutupi kebingunganku dengan bercanda dan tertawa bersama yang lain. Tidak. Aku tidak mau ada yang tahu. Tidak ada apa-apa dan aku tidak ingat apa-apa.

HARI PEMBENARAN

Sebulan berlalu sejak hari yang aneh itu. Sesuai yang aku harapkan. Yang orang tahu adalah aku jatuh terpelest, luka, dijahit dan istirahat selama dua hari di rumah. Sedangkan yang bapak ibu kos ku tahu adalah aku jatih terpeleset, luka, dijahit dan istirahat di rumah teman tempat aku jatuh selama dua hari. Dan tidak ada pertanyaan yang lebih jauh lagi tentang itu. Lukaku sudah sembuh. Dan walaupun bayang-bayang akan pencopetan belum hilang benar aku sudah tidak terlalu memikirkannya lagi. Banyak hal yang menyita perhatianku sebulan ini. UTS, rapat, latihan paduan suara, kegiatan ini, kegiatan itu. Lagipula aku tidak kehilangan barang berharga apapun seperti dompet atau handphone.

 Untuk pagi ini, hari jumat, aku tidak ada kuliah dan aku memutuskan untuk jalan pagi. Sebulan ini aku sangat kurang olahraga dan kurang istirahat pula. Jadi aku memutuskan unutk membuat hari ini menjadi hari relaksasi nasional. Jalan pag sampai jam tujuh, pulang,mandi, tidur untuk membayar hutang bergadang seminggu terakhir ini, lalu jam lima sorenya ke kampus untuk rapat. Hmmm, atau bagaimana kalau tidak usah rapat saja ya. Dengan kondisi badan yang tidak terlalu fit begini, pulang malam pasti akan menjadi katalisator sakit. Baiklah. Aku rasa aku tidak akan rapat malam ini.

 Jalan pagi selalu menyenangkan. Udara pagi, sinar matahari pagi. Semuanya begitu indah. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa mual. Sudah tiga hari ini badanku tidak enak. Mungkin aku masuka ngin. Rasa mualnya semakin menjadi-jadi dan.. huks.. aku muntah di pinggir jalan. Sebuah pikiran tiba-tiba terlintas. Tidak. Tidak mungkin. Bukan demikian dan tidak demikian tentunya. Memang aku belum menstruasi. Sudah terlambat sekitar dua minggu. Tapi bukan berarti demikian. Maksudku, kesibukan yang begitu menggila selama dua minggu terakhir ini sudah tentu menimbulkan tekanan di otak ini yang sangat mungkin membuat kerja hormon tubuhku tidak beres. Wajar saja kan. Aku terlalu banyak keluar rumah. Sepertinya malam ini aku harus ke dokter. Dan lebih baik aku habiskan hari ini dengan beristirahat saja. Ya, aku rasa lebih baik demikian.

 Sampai di kosan, pesan yang entah kenapa terasa banyak sekali masuk di hanphone ku.

”Na, ntar jam sepuluh di depan prtpus. Jangan lupa notulensinya.”
”Kel tiga! Hari ini nginep di tempat ita. Harus selesai malam ini.”
”Woy jarkom! Rapat jam 3 sore di sekre.”
”NA, ke mana lo, cepetean ke sini, ini proposalnya pegimane?”
”Latihan rutin hari ini penting, waji kudu datang.”

 Baiklah. Rencana istirahatnya sepertinya batal. Aku segera mandi dan bergegas ke kampus. Entah kenapa hari ini waktu berjalan sangat lambat. Kondisi badanku sangat tidak kondusif. Tapi aku rasa semuanya juga toh akan baik-baik saja. Jam sepuluh, aku merasa bdanku demam tinggi. Jam dua siang, aku muntah-muntah. Jam empat sore aku benar-benar lemas. Sebaiknya aku ke dokter dulu, lalu kembali k kampus untuk menyelesaikan sisa-sisa urusanku ini.

 Jam tujuh malam. Aku ada di kosan. Mengepak baju. Aku mengatakan kepada ibu kosku bahwa aku mengerjakan tugas di rumah teman. Dan aku bilang pada teman sekelompokku aku pulang ke jakarta. Ada acara keluarga mendadak. Aku juga bilang demikian kepada teman-temanku yang lain. Sebenarnya aku ke rumah sakit. Aku harus diopname. Gejala thypus. Tabunganku masih cukup membiayai smeuanya. Oleh karena itu aku memutuskan utnuk tidak mengatakan apa-apa kepada orang tuaku atau kepada yang lain tentang masalah in. Apalagi setelah dokter bilangan kandunganku bermasalah. Ya, benar, kandunganku.. Aku hamil.

 HARI RAHASIA

 Tiga hari di rumah sakit seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan dan membantu karena aku bisa memikirkan apa yang seharusnya kulakukan. Tapi tiba-tiba ketika aku baru saja merbahkan diri di kasur rumah sakit yang empuk itu, dia datang. Dia yang aku kagumi itu.

 ”Na, sakit apa?”
”Nagpain di sini?”
”Tadi ngeliat kamu bawa barang banayk masuk ke rumah sakit, aku panggil kamu ga denger. Aku ikutin aja. Aku pikir kamu kenapa-kenapa soalnya tadi di kampus kamu sempet muntah kan?Dan lagian kamu bilang kamu balik ke jakarta, bukan ke rumah sakit. Aku ikutin aja.”
”Aku lagi sms anak2 si ngasih tahu kamu diopname di sini.”
”Jangan!”
”kenapa?”
”Plis,, jangan kasih tahu siapa-siapa aku di sini. Plis. Tolong. Penting.”
”kenapa? Orang tua kamu tau ga kamu diopaname?”
”Enggak. Dan jangan sampai.”
”Jadi ini rahasia?”
”Yak. Betul Aku ga begitu tahu aku bisa percaya sama akmu atau enggak, tapi aku mohon jangan kasih tahu soal ini ke siapa pun. Tolong dengan amat sangat.”
”Kasih aku alasan kenapa. Bariu aku mau bantu kamu.”
”Aku ga bisa ngasih tahu kamu. Aku Cuma bisa minta tolong. Maaf.”

 Air mataku keluar. Tidak! Aku tidak mau menangis di depan dia. Dia kayaknya kebingungan dan mulai buang muka. Dia tidak suka hal yangberbau melankolis seperti ini.

 ”Ok. Aku ga mau ikut campur. Yasudahlah. Aku ga akan bilang siapa-siapa. Aku cabut dulu ya. Ngomong-ngomong kamu sakit apa?”
”Gejala thypus.”

 Dia langusng membalikan badan. Tidak pamit atau apapun. Seperti biasa. Cuek.Tepat saat Dia membalikan badan, seorang suster masuk.

 ”Mbak ina,itu tadi calon papanya...?”

AKu terdiam dan

hanya mengangguk-ngangguk saja. Aku rasa dia, yang kukagumi itu mendengar ucapan suster ini. Tapi dia tidak mau ikut campur kan?

 HARI PENCARIAN

 Selama tiga hari di rumah sakit, dia selalu datang tiap malam. Dan di hari keiga, dia bertanya kepadaku.

 ”who’s done it to you?”

Aku diam. Akh, aku tidak mau mebicarakannya. Aku takut dia akan memandang jijik kepadaku. Tapi aku tahu kalau ini aku simpan sendiri, hanya akan menambah beban saja.

 ”I wish i knew them..”
”them?”
”Kumpulan orang teler yang keluyuran malam-malam.”
’Kapan?”
”Sebulanan yang lalu.”
”Oh, itu menjelaskan luka di dahi kamu.”
”Begitulah.”
”Lalu ini baik-baik saja?”

Dia menunjuk perutku.

”Bermasalah. Aku baru tahu aku begini pas aku periksa ke dokter sabtu kemarin. Dan kayaknya support rahim sama badanku ga terlalu prima. Aku juga ga terlalu jaga stamina kan akhir-akhir ini. Ya jadi begitulah.”
”Kuliah kamu?”
”Aku ga tau. Aku belum  mikir sampai sana. Aku bingung musti ngapain...”
”Minta cuti saja.”
”ga ngerti caranya..”
”Ntar aku bantuin deh.”
”Anak-anak ga boleh tahu soal ini.”
”OK.”

 Dan entah bagimana aku bisa melalui semuanya. Terasa seperti mimpi. Terasa seperti angin. Waktu aku pulang ke rumah, begitu mama membuka pintu, beliau langusng memelukku. Mama sudah tahu kenapa tanpa aku perlu bilang. Mama bilang, beliau mendapat semacam penglihatan di mimpinya. Dia, yang kukagumi itu, membantuku mengurus permohonan cuti. Aku malah tidak tahu soal itu. Orang tuaku yang mengurus.

 Permohonan cuti yang akhirnya dikabulkan. Semuanya terasa seperti mimpi dan aku kehilangan emosi. Aku begitu datar menghadapi semua ini. Tidak ada sedih yang meluap atau rasa takut yang berlebihan. Hanya cemas teman-temanku akan tahu ini. Aku merasa ini seperti mimpi. Begitu sulit diterima akal sehat. Selama cuti, aku tinggal di Jakarta. Seminggu sekali, Dia yang kukagumi mengunjungiku. Memberitahukan perkembangan keadaan kampus. Yang orang-orang tahu di kampus adalah aku pergi berobat. Satu-satunya momen di mana aku dapat tertawa lepas adalah kalau Dia yang kukagumi datang. Aku merasa dekat dengannya karena aku memang tidak pernah bocara begitu panjang lebar dengannya sebelumnya. Dia sebentar lagi akan mengahdapi sidang tugas akhirnya.  Dan aku khawatir aku begitu merepotkannya.

 ”Kalo ngerepotin, ga usah ke sini terus juga ga apa-apa.”
”Kalo kamu maunya begitu ya udah.”
”Kamu sendiri maunya gimana?”
”Terserah kamu, kamu maunya gimana?
”Ya kamu datang ke sini bukan karena kasihan sama aku, tapi karen amenag pingin.”
”ya iyalah, hehehe...”

 Dia malah tertawa. Aku tidak tahu persis arti tawanya itu. Yang jelas sejak itu dia mulai jarang datang. Dan aku sedih. Tapi itu memberikan waktu luang yang amat banyak bagiku. Aku mulai memikirkan banyak hal sejak itu. Tentang bagaimana kelak aku akan membesarkan ank ini. Aku juga berpikir untuk berhenti kuliah dan mencari pekerjaan yang dapat dikerjaka di rumah sehingga aku bisa membesarkan anakku sendiri. Tapi mama menolak usul itu. Aku harus tetap kuliah.

 Aku tidak pernah menyalahkan siapa-siapa atas segala perkara ini. Aku menerimanya dengan begitu ikhlas, entah mengapa. Aku memang menyukai anak-anak. Aku sangat ingin cepat punya anak, memang denagn keadaan yang lebih kondusif. Aku punya suami, jadi jelas semuanya. Aku sempat berharap Dia bisa menjadi ayah anak ini. Tapi itu suatu pengharapan yang sia-sia. Dia mau menjaga rahasia ini sudah lebih dari cukup buatku.

 HARI-HARI YANG GELAP

 Ketika memasuki bulan ke lima, aku jatuh sakit dan mengalami keguguran. Rahimku tidak cukup kuat untuk mensupport si kecil ini. Kondisi mentalku juga tidak mendukung kehamilanku. Aku meyakinkan mama kalau aku tidak stress, tapi rasanya sia-sia membohongi diri sendiri. YA, aku memang menyukai anak kecil dan aku memang menikmati bulna-bulan kehamilanku ini. Tapi aku tidak bisa menutup mata dengan omongan keluarga dan sanak saudara lainnya. Apalgi sekali sempat aku memergoki papa, papa yang kukenal begitu tegar, menangis karena keadaanku.

 Aku begitu marah. Marah pada diriku sendiri yang tidak sanggup mempertahanka kehamilanku, marah kepada otang-orang yang membuat situasi ini begitu buruk. Sehrusnya aku merasa lega atas apa yang terjadi. Tidak ada beban lagi. Aku tidak perlul memikirkan bagaimana membiayai calonanakku ini, memikirkan bagaimana menjaganya tanpa meninggalkan kuliah. Keguguran ini sebenarnya begitu menguntungkanku. Tapi aku begitu kehilangan. Aku begitu sedih. Semua hal di sekelilingku tiba-tiba begitu gelap dan saat itu aku sepertinya baru menyadari betapa aku telah tertimpa musibah yang begitu buruk.

 Aku mengirimkan pesan kepada Dia tentang keguguranku ini dan dia tidak membalasnya. Padahal aku begitu berharap aku bisa berbagi cerita tentang ini. Satu-satunya orang yang tahu tentang ini hanya dia saja. Aku juga baru menyadari bahwa aku tidak punya teman. Tidak satu pun teman wanitaku tahu mengenai ini. Kesibukanku pada saat-saat terkahir kuliah yang lalu memang menyita begitu banyak waktuku sampai-samapi untuk bersosialisasi dengan teman satu jurusan saja tidak sempat. Memang ada beberapa yang meng-sms mrnanyakan kabarku, tapi aku berusaha menutup-nutupinya. Dan mungkin karena memang hanya sekedar basa-basi, maka tidak ada yang tahu keadaanku yang sebenarnya. Padahal kalau mereka memkasaku untuk menceritakan mengapa, aku akan bercerita. Aku juga tidak mau dikasihani.

 Sejak itu hubunganku dengan dunia luar benar-benar terputus. Dia yang kuharap mau memberikan aku perhatian tidak pernah lagi menanyakan kabarku. Aku juga tidak pernah lagi mengontak teman-temanku. Aku merasa begitu hancur dan rapuh. Semuanya begitu gelap.Aku kehilangan banyak hal. Anakku, kepercayaandiriku, dia yang kukagumi dan teman-temanku..

 Tujuh bulan dari sisa cutiku begitu menyiksa. Aku begitu depresi dan beberapa kali melakukan usaha bunuh diri. Tapi itu selalu gagal. Entah kenapa. Aku menutup kontak dengan sekelilingku. Dan ketika aku muali membukanya lagi aku sadar aku sudah menjadi orang lain. Aku selalu merasa rendah dan tidak percaya diri. Aku selalu mengeluh dan mudah menyerah. Aku sering merasa tidak diperhatikan. Aku begitu menyedihkan. Keikhlasanku dalam menerima segalanya juga hilang entah ke mana. Aku menyalahkan orang-orang itu dan aku memaki-maki almarhum anakku. Smeuanya terasa kacau berantakan. Tapi anehnya, semua orang mengira aku baik-baik saja.

 Menulis di blog adalah suatu bentuk pelampiasanku. Aku berharap tidak ada yang membacaya. Toh, tidak banyak yang bisa dilakukan. Aku tentunya menggunakan nama samaran, Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata ada orang yang begitu setia membaca blogku. Dia memakai nick name a cup of tea. Entah apa maksudnya, tapi aku sangat menyukainya. Setiap kali aku memutuskan untuk mengakhiri segalanya, aku selalu menulisnya di blog dan selalu saja ada komentar darinya yang membuat aku berpikir dua kali. Dan memang benar. Membaca komentarnya sama dengan meminum secankir teh. Begitu segar.  Salah satu kata yang selalu dia pakai untuk memanggilku adalah langit pagi. Dia memanggilku demikian karena dia yakin aku tidak serendah yang aku pikir. Aku adalah langit pagi, yang begitu indah, dan segar. Gombal sekali bukan. Tapi aku menyukainya. Langit pagi. Coba diucapkan pelan-pelan. Indah bukan? Dia membuatku begitu hidup. Apalagi di saat- saat itu aku ingat betul bahwa aku merasa tidak berharga dan tidak patut dicintai, terlebih setelah dia yang kukagumi benar-benar tidak pernah mengontakku lagi. Entah bagaimana dia selalu dapat membuatku tenang. Penasihat sprirtualku ini tidak pernah aku ketahui siapa. Aku juga tidak ingin mengetahui siapa dia. Ketika akhirnya masa cutiku habis, aku sudah nyaman dengan diriku sendiri. Tepat sejak saat itu, blogku tidak pernah dikunjungi oleh siapapun lagi. Entahlah, aku rasa aku kehilangan dia.

 HARI BARU

Cuti selama satu tahun membuatku masuk ke kampus ini seperti anak baru lagi. Komposisi teman-temanku berubah tapi aku begiut menikmatinya. Aku merasa begitu sehat. Sesekali aku memang dihantui mimpi buruk tentang anak kecil. Tapi entahlah, aku tidak merasa terganggu.

Aku memulai sebuah buku yang baru hari ini. Pagi ini, entah dari mana, entah dari siapa, aku menemukan secarik kertas dengan sebuah tulisan di dalamnya tergeletak di deket tong sampah. Isinya begitu manis. Walaupun jelas aku menemukannya di dekat tong sampah, tapi aku yakin itu memang untukku. Langit pagi.

Bangunlah, dan lihatlah indahnya
Kamu masih seperti dulu, Kamu adalah langit pagi
Dan kamu akan tetap menjadi seorang kamu
Jangan terus berlari
Tutup telingamu ketika kata itu keluar, Tutup matamu ketika masa itu datang
Kamu adalah angin bertiup, Dan kamu akan tetap menjadi seorang kamu
Kamu adalah berharaga, Dan akan terus selalu berharaga
Apa pun yang telah terjadi
Lupakan luka brengsekmu itu!!
di angkasa raksasa ini, Sebuah cinta harus dan akan ada untukmu..

 

 13.12.05

 21.00

gua ditolak!!

ya gitu d...
penolakan yang sangat lucu..
hahahahahahaha...

tentang teh 2

air panas dan dua sendok gula
dicelupkan lalu diaduk-aduk
bening terus kecokelatan
begitu seterusnya
setiap ingin minum teh..

postingan2 gj gw,,,

duh,,, kalo ngeliat isi postingan gw tuh kayaknya menyedihkan banget ya,,,
gw juga akhirny sebel ngeliatnya.

tapi memang begitulah hidup..
maksud gw emang ada fasenya.. kapan lo di atas dan di bawah.
masalahnya terletak di kecepatan. gw masuk dalam golongan yang kecepatannya sesuka hati gw,,
kan ga bagus ya..
huh...

tentang teh,,

secangkir teh di atas meja
terhidang ketika sedang hujan
membagi aromanya yang menggoda hati
dihirup pelan-pelan
badan pun terasa hangat
secangkir teh di atas meja
sekarang sudah kosong tidak berisi

lega....

fiuh....
hidup ini indah

(begitu inginnya untuk ) berhenti berharap

aku terus memikirkannya.

kamu begitu menakjubkan dalam beberapa sekaligus mengherankan dalam banyak. semakin kita berbagi, semakin aku bermimpi.
kita begitu berbeda. Sepertinya aku tidak ingin bertemu denganmu lagi atau bersama-sama denganmu lagi..

aku begitu lemah membiarkan semuanya terjadi,,

ini harus diakhiri... hah??

Teringat betapa senang bila kita pulang ke rumah itu
di mana kita bisa bermain hujan sampai basah
dan kamu mengurai tali kusut
kita tertawa di antara rintik air
dan kamu menyeka air mataku
dengan daun cemara itu

kalau bulan muncul di antara bola matamu
aku akan menyanyi
dan butiran perak itu beterbangan
kamu masih berdiri untuk menangkapnya
sedang aku duduk diam
berharap suatu saat nanti
dapat berubah perak dan terbang

di sana kita berlarian
teduh hijau menghampar
kamu akan tersenyum dan melambai ke atas
dan kemudian keemasan menghiasi setiap kata
lalu menguap bersama embun rumput
dan aku merasakan hangatnya jarimu

wajahmu adalah lukisan tanah
teduh dalam dekapan jingga
menyusuri setiap seyum
dan aliran udara di antaranya
wangi rumput basah menyebar
dan matamu begitu lekat di sini

Kamulah satu-satunya yang memilikinya
Dan menjadi satu yang merasakannya
Sampai akhirnya sayap itu tumbuh
Bening keperakan dan berduri
Lembut dan begitu kuat
Ketika kusentuh, kepakannya menembus hatiku
Perih sekali…

Kau lemparkan kunci rumah ke telaga awan yang paling gelap
Aku ingin berenang mencarinya ketika bayanganmu mengambil nafasku

Hujan itu tidak lagi indah
Berlarian itu lelah dan aku menangis terus
Kamu pun mengusap air mataku untuk yang terkahir kalinya dengan sayap berdurimu kemudian kamu terbang amat jauh,
Semetara aku terjebak dalam badai angin bercampur debu kepak sayapmu
Aku ingin pulang ke rumah itu…

14.11.05

untuk jiwa dengan luka yang tak kunjung sembuh

Bangunlah, dan lihatlah indahnya
Kamu masih seperti dulu
Kamu adalah langit pagi
Dan kamu akan tetap menjadi seorang kamu

Jangan terus berlari
Tutup telingamu ketika kata itu keluar
Tutup matamu ketika masa itu datang
Kamu adalah angin bertiup
Dan kamu akan tetap menjadi seorang kamu

Kamu adalah berharaga
Dan akan terus selalu berharaga
Apa pun yang telah terjadi

Lupakan luka brengsekmu itu!!
di angkasa raksasa ini
Sebentuk bintang harus dan akan ada untukmu