sebuah pertemuan dan pembicaraan
Ia tiba-tiba saja datang dan mengajaku berbicara ketika aku sedang berjalan pulang.
“Kamu sebenernya tahu tentang semuanya. Jangan sembunyi terus.”
“Eh? Aku ga ngerti kamu ngomong apa.”
“Kamu tahu.”
“Tentang apa? Semua apa? Aku ga ngerti.”
“Dia menunggu kamu. Kamu tahu itu.”
“Dia siapa? Ngomong yang bisa aku ngerti kenapa sih?”
“Kamu selalu membohongi diri kamu sendiri. Kamu tidak selemah itu, kamu tidak sebodoh itu dan kamu tidak se-sendirian itu. Kamu hanya mencari masalah saja.”
“Kamu ngomong apaan sih? Kenal juga barusan uda sotoy gini.”
“Aku tidak seasing itu. Kamu lupa…”
“Orang yang aneh.”
“Kamu juga.”
Hening.
“Kenapa sih kamu selalu berpura-pura?”
“Aku ga ngerti yang kamu omongin!!!”
“Kenapa kamu ga pernah mencoba jujur sekali saja. Kamu tuh ngerti apa yang aku omongin .Kenapa sih kamu?”
“Loh.. yang kenapa itu kamu! Kenapa aku harus jujur ke kamu. Siapa kamu?”
“Kamu lupa siapa aku,,,”
“Kamu sungguh aneh.”
Hening lagi
“Aku ga bisa percaya sama orang lagi.”
“Karena?”
“Karena itu susah…”
“Kamu terlalu berprasangka.”
“Aku ga punya temen.”
“Kamu salah.”
“Mereka terlalu kasat mata.”
“Kamu yang terlalu kasat mata.”
“Aku nyaman menjadi kasat mata. Ga ada yang ngerti tentang aku.”
“Karena kamu hidup bukan sebagai kamu. Kamu berusaha untuk menjadi seseorang yang kamu anggap ideal. Dan kamu terlalu pengecut untuk membuka topeng itu.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Tergambar jelas di matamu.”
“Dengan topeng saja aku sudah cukup sendiri. Bagaimana kalau topeng itu dibuka? Lebih terkucil lagi?”
“Lepaslah pelan-pelan. Sampai bahkan orang tidak tahu kamu melepas topeng.”
“Aku takut.”
“Tidak ada yang tahu kamu berganti topeng.Kecuali kamu beritahu.”
Hening lagi.
“Jangan terus menerus membuat masalah.”
“Aku tidak pernah membuat masalah.”
“Tapi kamu suka berada di dalamnya. Entah apa yang kamu cari.”
“Entahlah. Mungkin hanya dengan demikian aku tahu aku tidak sendirian.”
“Cara yang bodoh.”
Kembali hening.
“Kamu tahu dari mana dia masih menungguku?”
“Dia masih menunggu kamu membuka topeng itu.”
“Akankah dia benar datang setelah itu.”
“Mungkin. Aku tidak tahu. Tapi dia masih menunggumu.”
“Apakah dia memaafkan aku. Untuk semua ini?”
“Dia harusnya mengerti.”
“Dia masih menyayangiku seperti dulu?”
“Kamu masih menyayanginya seperti dulu?”
“Aku menyayanginya sebagai sosok yang baru. Bukan seperti dulu.”
“Seharusnya dia juga begitu.”
“Apakah dia benar-benar ada?”
“Tergantung kamu.”
Hening.
“Siapa sih kamu? Kamu dari tadi ga mau jawab.”
“Kita sudah berkenalan lama. Kamu aja yang lupa.”
“Orang yang aneh.”
“Kamu.”
“Eh?”
“Kamu.”
“Apanya yang kamu?”
“Aku”
“Eh..?”
“Ya sudahlah. Ga penting..”
“Orang yang aneh.”
Dan tiba-tiba dia meninggalkanku sendiri begitu saja.
Bandung
.

Recent Comments