mengingat

saya telah mengingat semuanya.

apa yang saya lihat, apa yang saya hirup, apa yang saya sentuh.

saya juga telah mengingat dengan jelas.

ketika angin menerbangkan rambut saya, ketika ada genggaman hangat di tangan saya.

saya benar-benar mengingat jelas semuanya,

dan karena itu saya juga ingat,

bagaimana hati saya hancur berantakan sore itu.

[After I forgive the past, can I forgive myself?]

*ini posting terakhir gw di sini. pindah ke gitaditya.blogspot.com

                            

untuk ti 2007 --> utang ga bisa ikut swasta ruangan

Ketika kita mau masuk ke dalam suatu grup, suatu kumpulan, suatu apa pun, pasti akan ada namanya proses, entah itu seleksi, entah itu proses pendidikan, entah itu orientasi.

Tujuannya? Macem2. Ada yang memang ingin menyeleksi untuk memastikan yang masuk adalah bibit-bibit unggul. Misal SPMB, USM, atau seleksi buat masuk Lab. Ada juga yang tujuannya untuk mendidik supaya anggota baru bisa punya karakter yang dianggap sahih [wakakakak.. sahih…] untuk menjadi suatu anggota. Contohnya masuk k unit, masuk ke himpunan.

Bagian yang paling menjemukan dan menjengkelkan dan menjijikan dari proses-proses macam ini adalah kalo kita mendapat panitia, atau kakak yang super menyebalkan. Entah itu karena ketidakpedulian mereka, atau kengacoan mereka, atau ketidakdewasaan mereka, atau kecerewetan mereka. Gw rasa, di setiap proses kaderisasi, panitia memang harus menyusahkan, dan memang harus menyebalkan, dan memang harus minta ditampar.

Karena dengan itu lo akan mikir, apakah yang lo lakuin betul2 sesuatu yang lo inginkan. Karena di situ, semua moral etika yang udah lo dapet diuji. Lo harus menilai apa yang udah lo alami menjadi benar atau salah. Lo ditantang untuk bersuara ketika lo merasa bahwa yang lo alami salah. Lo dipakasa bangkit dari rasa sedih dan kecewa ketika lo merasa lo telah mendapat perlakuan yang ga ngenak2in.

Secara spesifik, gw akan cerita soal PPAB MTI. Dulu gw super duper muak dengan semua yang berhubungan dengan PPAB. Dan gw pikir itu adalah hak gw. Gw berhak merasa proses kaderisasi itu sungguh tidak penting. Gw berhak merasa organisasi yang lo ikutin kemudian adalah ampas.

Salahnya gw. Gw berhenti sampe situ aja. Gw ga menjawab tantangan2 yang gw tulis di atas. Gw Cuma sampai tahap protes aja, tapi gw ga bangkit dari rasa kecewa gw. Gw lupa kalo gw ngalamin ini bareng sama temen2 gw. Gw ga berusaha nyari temen diskusi atau temen ngobrol, sehingga gw merasa sendiri, dan akhirnya gw pergi. Gw ga pernah ngapa2in di MTI. Ternyata belakangan, gw baru tahu, kalo sebenernya banyak temen yang bisa gw ajk diskusi. Dan banyak yang merasakan keresahan yang gw rasakan, dan klau gw tahu lebih awal, mungkin sesuatu sudah bisa dilakukan lebih awal.

Dalam PPAB 2005 lalu, gw cuman ngambil sakit hatinya doang, gw ga ngambil manfaat paling berharga yang udah disediain PPAB buat gw. Hubungan gw dengan 2005.

Jadi wahai 2007 yang sedang ppab, kalau emang ada yang kesel dan bt sama PPAB.. ga pa2. Tapi lo ga boleh nyia2in PPAB ini sebagai tempat lo bener2 kenal sama angakatan lo sendiri… Kalo lo ansos, ya cobalah manfaatkan… Kasih targetlah buat diri lu sendiri. Kalo lo bisa kenal minimal 50 orang di angkatan lo termasuk dia dari mana dan lain2nya, itu artinya lo udah sukses manfaatin PPAB sebagai momen untuk majuin diri lu.

Hohohoho…

BBM naik, BBM tidak naik, semua sudah terlanjur panik

ini logika gua terkait masalah BBM:

Indonesia penghasil minyak mentah..

Indonesia pembeli minyak yang sudah diolah..

Indonesia mengalami penurunan produksi minyak..

Sekaligus peningkatan yang tajam dalam penggunaan BBM.

Harga minyak bumi meroket hingga 120$

Sedangkan rakyat Indonesia hanya perlu mengeluarkan uang untuk minyak dengan harga 60$.

60$ sisanya di"talangin" oleh pemerintah.

Akibatnya pemerintah cekak.

Biar tetap berduit = harga BBM hgarus dinaikan.

Bila pemerintah berduit = harga BBM naik = Sembako naik = rakyat kecil ga punya duit.

Buah simalakama.

Jadi bagaimana?

Kita harus hemat kawan!! hemat BBM. Kita konsumtif gila!! GILA! sekeluarga punya mobil 4!! tiap malam minggu jalan pake mobil!! K kampus pake mobil!! Gimana kita ga jadi konsumtif???

Biodiesel juga bukan solusi murni. Biodiesel tetap harus dicamput dengan BBM. fungsi biodiesel  sendiri kan menekan pencemaran dan mningkatkan efisiensi si BBM. Jadi ya walau ada biodiesel, kita tetap harus hemat BBM.

Kalau mobil2 pemerintah dijual, kalau gaji pemerintahan dikurangin, kalao gaji DPR dikurangin, cukup ga buat nalangin?? rela ga mereka? pemerintah butuh duit. So simpel kan??

Gua ga tahu seberapa gede expense pemerintah untuk kebutuhan sehari2nya.. tapi betul kata Goenawan Mohammad di tempo edisi minggu lalu.

kalo semua jas pegawai pemerintah diganti batik aja... berapa tuh penghematannya...

[ya Tuhan, betapa beratnya untuk tetap percaya dan jangan pernah berhenti berharap pada Indonesia]

AYO KAWAN!! HEMAT BBM!!!

demi Indonesia!

atau kalau susah at least demi duit di dompet lo lah..

sore indah

indah...
ada sinar oranye masuk lewat pintu kamar..
tapi begitu ngeliat keluar
yang kelihatan rintik-rintik hujan.

romantis,,,

kenapa ya kalau saya marah atau sedih, saya ingin badan saya bertaburan jadi rintik hujan? mungkin karena baunya harum dan indah. jatuh ke tanah lalu merekaj lagi jadi cipratan yang  lebih kecil.

[Pak Hari Lubis bilang
"jangan berhenti berharap pada Indonesia. Kita negara besar, dan bila kita berhasil mengatasi krisis ini, masa keemasan tersebut adalah masa kalian....."

entahlah...
saya pikir kemampuan saya berharap suah menjadi tetes hujan..
saya takut gagal,
saya takut terpuruk.
saya takut jadi sampah.

lalu bila bukan saya
siapa?]

saya sedang berdiri di dekat jemuran.
masih melihat rintik-rintik hujan,
dan sinar oranye masih masuk ke kamar.

Muse - Knights Of Cydonia Lyrics

[man.. ini lagu perjuangan!!!!]

Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh

Come ride with me
Through the veins of history
I'll show you how God
Falls asleep on the job

And how can we win?
When fools can be Kings
Dont waste your time
Or time will waste you...

Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh
Ahhh Ahhh Ahhh

No one's gonna take me alive
The time has come to make things right
You and I must fight for our rights
You and I must fight to survive No

one's gonna take me alive
The time has come to make things right
You and I must fight for our rights
You and I must fight to survive

No one's gonna take me alive
The time has come to make things right
You and I must fight for our rights
You and I must fight to survive...

--untuk mereka yang mau ikut berjuang..
yang menaklukan lelah dan tetap tegak berdiri bahkan ketika harapan itu kosong...--

Hari Kartini yang aneh,,, (diucapkan dengan nada menurun di akhir kalimat ala sinchan)

Kenapa waktu 21 April kemarin kita disuruh pake batik? Apakah karena kartini dulu selalu memakai batik? Kayaknya sih, dia pakai kebaya walau bawahnya batik. Hohohoho…

Nuansa batik begitu terasa di kampus ganesha kemarin. Dresscode yang digaungkan kabinet cukup berhasil dipopulerkan.  Tapi sepertinya korelasi antara batik dan kartini itu sendiri masih terlalu lemah di logika saya.

Mari kita coba mengkorelasikan:

Kartini ada seorang ibu rumah tangga dari keluarga Jawa ningrat. DIa memberikan pendidikan kepada anak-anak perempuan di lingkungannya, di mana pada masa itu perempuan tidak berhak menyentuh bangku pendidikan. Walau meninggal di usia muda, apa yang ia lakukan menjadi katalis penyetaraan pendidikan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia. Saya menekankan kata penyetaraan pendidikan. Konsep penyetaraan di sini bukan pukul rata secara membabi buta ya, tapi sebuah konsep yang (bagi saya) mengakui keberadaan wanita untuk turut menyeselesaikan masalah-masalah dunia, bukan sejedar penghias warna-warni dunia… halah… J Bagian dari feminism J Dan hei,,, feminisme adlah konsep yang turunannya banyak, jadi ga selalu negative.. Meminjam istilah Hanna: Feminisme itu bukan tunggal, tapi jamak, banyak mazhabnya.

Nah. Sekarang dengan latar belakang apa yang telah Kartini lakukan, pemerintah memperingati 21 April sebagai hari Kartini. Kita pun diperbolehkan memperingati hari ini dengan berbagai cara. DI kampus kemaren, ada diskusi yang mengundang cewek2 ok yang sukses. Bolehlah. Itu menunjukan wanita-wanita ini telah mendapat pendidikan yang dulu diperjuangkan kartini dan terbukti mampu ikut berusaha memperbaiki masalah sekitar yang ada. Tapi kalau fashion show??

Okeilah, batik pakaiannya kartini. Tapi masak itu dasar kita pakai batik-an? Kalau yang jadi perancang fashion shownya termasuk cewek2 oke, gw masih terima. Kalau di balik setiap busana yang ditampilkan ada penjelasan yang berbau filosofis, gw malah tambah seneng. Tapi ini fashion show yang “seolah-olah” dijadikan daya tarik semata untuk meramaikan diskusi yang diadain. Yang ada, diskusi hanya tinggal diskusi. Suara para pembicara tenggelam di anatar para mahasiswa yang ramai memenuhi CC entah untuk apa.

Fiuh… di mana semangat kartininya?? Bagi saya, Hari Kartini adalah hari untuk mengingatkan orang tentang seorang Kartini yang mau memenuhi cita-citanya walaupun nekat. Hari Kartini adalah peringatan kepada seorang wanita yang membuat saya bisa sekolah dan menulis tulisan ini. Jadi, wajarlah saya kecewa dengan perayaan yang kali ini… Kosong sajalah… Tapi tak pa-pa.. Diawali dengan hura-hura, semoga diakhiri dengan renungan di hati para penonton fashion show kemarin sore,,,, hohohoho…

Saya menolak konsep NON HIM apalagi Anggota Muda Anggota Biasa ala MTI….

Jadi ya teman-teman, karena saya adalah Mahasiswa Teknik Industri ITB angkatan 2005 dan somehow berhasil mengalahkan ego diri dan idealisme lalala sehingga bisa mengikuti PPAB sampai selesai walaupun “berkasus” maka saya mendapakan status sebagai anggota MTI.

MTI itu katanya adalah Keluarga Mahasiswa Teknik Industri ITB yang entah kenapa hanya disingkat menjadi MTI (tanpa embel Himpunan atau Keluarga atau Ikatan). Jadi kalau bicara konteks, semua mahasiswa ITB yang punya nim 134 harusnya adalah MTI aka Mahasiswa Teknik Industri. Walaupun MTI di sini merujuk pada organisasi yang isinya adalah orang-orang yang lulus PPAB dan punya jahim biru muda, tapi pemilihan nama tentunya bertujuan untuk menunjukan secara cepat kepada orang di luar sistem siapakah organisasi ini.

Jadi menurut saya, dari segi nama aja, harusnya semua orang yang punya nim 134 adalah MTI. Konsep Non-him bagi saya telah gugur dengan bilang: himpunan gw “MTI”

Argumen lain

Zaman telah berubah,, kita tidak lagi berperang terhadap orde baru,, karena kehilangan musuh (orde baru), kita jadi berperang terhadap orang di luar sistem. Mulai dari rektorat, KM ITB, bahkan orang2 yang ga kita anggap layak ada di MTI karena dia ga melakukan apa / kontribusi.

Saya ga sepakat kalau untuk masuk MTI adalah sebuah pilihan. Bagi saya masuk MTI adalah hak. Kenapa hak? Karena saya ga melihat ada alasan logis bahwa apa yang bisa dinikmati di MTI (rasa kekeluargaan, silaturahim, mengabdi kepada sesama) hanya untuk mereka yang ikut PPAB. Apalah PPAB itu? Untuk membentuk karakter? Karakter apa? Karakter satu sebagai angkatan? Apakah harus menjadi satu angkatan yang solid kemudian baru boleh menjadi MTI? Kita bukan tentara! Yang dibentuk  pada PPAB adalah rasa kepedulian. Memangnya kenapa kalau karakter itu dibentuk seiring dengan masuknya mereka sebagai anggota MTI? Ga salah kan?

Ini logikanya bagi saya. Kamu masuk MTI bukan karena kamu sudah solid, kuat, dan saling gotong royong. Tetapi karena kamu sudah jadi anggota MTI, kamu harus punya karakter kuat, solid dan saling gotong royong!!

Menurut saya menjadi anggota MTI dapat dianggap sebagi suatu penghargaan kepada mereka yang telah berhasil menembus USM dan SPMB. Mereka-mereka ini (termasuk kita semua) menjadi satu dan punya keterikatan karena saru kesamaan: setara secara akademik. Konsekuensi dari penghargaan itu adalah menunjukan sikap integritas, bertanggungjawab dan mengabdi pada sesama. Untuk membentuk karakter tersebut  adalah tanggung jawab MTI. Dalam hal ini kaderisasi bisa jadi salah satu tools-nya.

Beda lho. Kalau ikut kaderisasi untuk mendapat status. Yang kita pikirin adalah bagaimana menuntaskan proses kaderisasi. Tapi ketika kaderisasi dibuat untuk meningkatkan kualitas diri, tentu setiap orang yang ikut adalah mereka yang benar2 ingin mendalami dan mengambil hikmah dari setiap proses.

Intinya sih: PPAB ga membantu banyak dalam membentuk karakter seseorang apalgi angkatan. Bagi saya pribadi PPAB berpengaruh besar dalam membentuk jiwa militansi yang berlebihan di beberapa orang dan mengobarkan cara pandang hitam putih yang cukup naïf. Buntutnya: membuat perpecahan terselubung dalam angkatan maupun lintas angkatan yang baru dirasakan 2 – 3 tahun kemudian.

 OK, kembali ke awal. Masuk MTI bukan pilihan, tapi hak. Emang si ada yang bilang: “Jangan pikirin apa yang MTI kasih ke anda, tapi apa yang bisa anda kasih ke MTI”. Dengan pandangan seperti ini, silakan pilih, mau ngasih sesuatu atau ga? Kalau ga, yang jangan masuk MTI.

 Nah, masalahnya: quote itu aslinya kan “Jangan pikirin apa yang udah Negara kasih ke anda, tapi apa yang udah anda kasih ke Negara” (Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke sekianlah…). Ketika kita adapt quote itu, apa kita udah jadi warga Negara?? Udah kan…?? Terus kenapa quote itu muncul. Menurut saya, itu adalah suatu ajakan untuk memikirkan kepentingan bersama dengan mengorbankan kepentingan pribadi dan golongan, karena Negara adalah tak lain kita semua. Nah jelas kan Negara itu siapa.

Kalo kita pake quote itu di MTI sebagai “landasan” untuk mengajak (atau mungkin memaksa??) orang masuk MTI, anehlah… siapa itu MTI?? Sesuatu di luar sana di mana si calon anggota adalah orang di luar sistem.  MTI sudah menagih kontribusi (memilih masuk him) sebelum para calon anggota ini mendapat haknya…  

Kenapa sesuatu yang harusnya bisa dibagi bersama (rasa kekeluargaan)  harus dibatasi hanya kepada mereka yang baik menurut perspektif satu pihak saja? Apakah kalau PPAB quota, itu berarti tanda angkatan yang solid? Tidak ada yang bisa menjamin. Apakah kalau jiwa militan timbul, MTI akan tambah solid? TIdak ada jaminan juga. Karakter militant pada anggota himpunan dahulu diperlukan karena kita punya musuh yang juga militan: Orde Baru. Setelah orde baru tumbang, situasi berubah dengan cepat. Begitu juga lingkungan luar MTI. Ketika MTI tetap berjalan di tempat, militansi itu pun tidaklah lagi terlalu berguna. Sisa dari militansi hanyalah pola pikir hitam putih dari para anggota baru dan mematikan kemampuan tiap anggota untuk memiliki rasa toleransi dan menghormati ketika ada perbedaan prioritas.

Keanggotaan MTI adalah HAK semua mahasiswa yang diterima di Program Studi Teknik Industri.

Konsep Non-HIM sudah tidak sesuai dengan zamannya. Non-HIM adalah solusi yang salah untuk suatu masalah. Ketika ada seseorang yang tidak sepakat dengan suatu pola pikir organisasi, daripada mencoba berdiskusi dan berdamai, orang ini dibuang saja. Bukankah lebih baik bila orang itu mundur saja bila memang sudah tidak ada jalan? Memang dia juga akan berstatus non-HIM. Tapi dengan konsep ini, artinya dia pernah menjadi anggota MTI. Artinya lagi, ketika dia memilih mundur, maka alasannya tentu akan lebih jelas dan clear. Jadi Non-HIM tidak lagi melekat pada “orang yang ga mau iktu kaderiasai”, atau “orang yang MT” tapi lebih karena suatu diskusi panjang yang ternyata memang tidak berjalan keluar. Lebih intelektual bukan daripada sekedar omongan di belakang para nonhim bahwa kaderisasi hanyalah bentuk penindasan kemanusiaan. Xp

Saya kenal seorang Non-Him. Secara karakgter saya lebih menghormati dia, karena dia lebih disiplin, tepat waktu dan tegas. Waktu itu dia memilih nonhim karena dia punya prioritas lain. Saya rasa pilihan dia tidak salah. Karakter dibentuk di PPAB tidak memberikan perbedaan signifikan antara kami dan dia.

Beh,, banyak aja,,,,

Oleh karena itu kawan,,, saya mengusulkan untuk mahasiwa TI angkatan 2007 dan seterusnya semua diterima menjadi anggota MTI. Karena jurusan Teknik Industri bukanlah pilihan dari tiap orang, tapi “takdir”. Nah, keluarga kan juga takdir, ga bisa milih. Jadi kita juga ga bisa milih keluarga jurusan kita selain dari keluarga mahasiswa jurusan kita kan :D Oiya, menurut saya juga merupakan pengamalan sila ke 5 Pancasila lo. Inget ga isinya apa???

“Keadilan SOSIAL bagi seluruh rakyat Indonesia”

 

Untuk sistem di MTI sendiri.

 Kita harus dengan rendah hati mau merombak MTI dari awal. MTI sudah butuh adaptasi internal. Di MTI sekarang, yang berantem adalah orang-orang yang baik, yang ingin MTI Menjadi lebih baik. Lalu kenapa kita berantem? Sistem membuat kita berantem. Sistem yang mana? Salah satunya sih, yang paling kentara ya sistem AM/AB. 

Nih… Noviana – Ketua Pemilu Senator pas Ubay. Kenapa dia anggota muda? Atau Ujan, yang Koordinator Lapangan PPAB 2006. Atau beberapa teman lain yang ga pernah memimpin tapi selalu ad bila dibutuhkan (Babeh, Ngkong, Dwi, Sindy, Jamal, Stevi06.dll)Kenapa dia anggota muda? Kurang berkontribusi? Apa definisi kontribusi sekarang? Datang ke acara hura2? Jadi panitia acara hura2? Merasa sudah populer? Saya sama sekali ga sepakat kalau alasannya adalah karena kontribusi.

Emang sih mereka yang mau jadi anggota muda. Tapi kenapa?? Karena tawaran yang diberikan adalah –kalo jadi anggota biasa bisa jadi BP dan punya hak pilih.. Oh man,,, Mereka bukan tipe orang yang gila kekuasaan. Dan sepertinya argumen untuk menjadi Anggota Biasa yang diberikan ketika wawancara transformasi AM/AB (sama sekali)kurang cerdas untuk membuat mereka memilih anggota biasa. Dan membiarkan orang berpotensi macam mereka tetap memilih untuk menjadi anggota muda sama sekali bukan bentuk penghargaan atas apa yang telah mereka lakukan.

Kembali ke sejarah, katanya dulu MTI mengalami masa kritis di mana RA yang datang cuma 3 orang (ini konon katanya, kalau tidak tepat mohon klarifikasinya CMIIW). Untuk mengatasi masalah ini, harusnya dicari dulu kan root cause-nya. Tapi entah siapa, seseorang (atau mungkin beberapa??) yang menurut saya agak “kurang” dalam proses berpikir, menemukan solusi yang dia/mereka anggap  “brilian” yaitu konsep AM AB. Pembedanya cuma: datang RA atau tidak, Hak menjabat di struktural MTI, dan hak suara. Alasannya sih biar yang tidak berprioritas di MTI bisa bebas tugas datang RA dan RA lebih mudah kuota. Hello…?? Rapat Anggota adalah kedudukan tertinggi di MTI menurut AD/ART MTI. Nah, kalo RA hanya mewakili segelintir orang saja yang tunduk pada sistem yang kurang tepat (kalau tidak mau dibilang sistem tersebut salah) di mana kekuatannya? Di mana kedaulatanya?? RA adalah non-sense belaka karena memberikan diskriminasi pada anggota muda! RA tidak berdaulat. MTI cacat secara organisasi..

Ini sih namanya mengobati sakit gigi pake obat sakit kepala karena memang sakit gigi bisa bikin sakit kepala. Tapi kan sakit giginya tetep ada. Saya rasa, masalah MTI adalah masalah sistem. Seperti saya bilang, zaman telah berubah sejak reformasi 10 tahun lalu di Indonesia, tapi sistem di MTI kayaknya tidak banyak  berubah sejak 10 tahun lalu. Salah satu efek nya, orang-orang jadi malas karena mereka sudah tidak tahu untuk apa berhimpun ( secara di himpunan dibentuk jadi “tentara”, tapi uda ga punya musuh lagi,, :p-hanya kiasan-). Masalahnya adalah sistem, tapi diselesaikan dengan memungkin RA tetap jalan lewat AM-AB. Masalah dasar tidak disentuh.. Begini deh akibatnya sekarang..ckckckkck

Nah… itulah salah satu contoh bahwa sistem yang dimiliki dan tetap dipertahankan MTI sudah tidak tepat guna. MTI benar-benar perlu ditinjau ulang, baik sistemnya maupun pola pikir semua anggotanya. DI sini semua kita bersalah. Kita masing-masing kerap merasa paling benar dan tahu apa yang benar. Ktia jarang mau duduk bersama dan berdiskusi secara sehat. Kita enggan untuk membicarakan perubahan mengenai MTI satu sama lain di waktu senggang. Yang sudah sakit hati (seperti penulis) malas membahas karna sudah merasa tidak akan didengar. Kalaupun sudah membicarakan, saya khawatir pembicaraan tersebut menguap begitu saja tanpa adanya follow-up berkelanjutan. Yang sudah sakit hati (seperti penulis) malas membahas karena sudah merasa tidak akan didengar.

Saya memilih menulis… Bila banyak yang tidak sepakat dan merasa saya sok tahu, itu bagus. Ketidak setujuan akan melahirkan diskusi. Diskusi melahirkan “kebersamaan”, pelajaran untuk mendengarkan dan saling menghargai dan yang paling penting SOLUSI untuk membuat MTI kita bersama ini menjadi organisasi yang lebih baik.

Diskusi sudah dimulai.. Tinggal sekarang, siapa yang mau membuka lebih lebar wacana untuk merombak MTI secar besar2an berdasarkan ilmu PO yang diajrkan di TI terutama oleh Bapak S.B Hari Lubis hohohohoho….

Hormat Saya,

 

Gitaditya Witono

134 05 113

Anggota Muda MTI….(karena sistem yang aneh…panjang ceritanya, masak mao klean baca?? :p)

after the rain

habis sakit, banyak hal yang menunggu di luar sana..
kerjaan di LSP, kuliah, PSM, IEC..

tapi gua di cut dari konse PSM MEi ini :|
kesel,,,,
sampe sekarang,,
kenapa juga ga dikasih tahu sejak gw sakit.. secara sejak gw sakit gw bolos latihan buanyak bgt,, kalau gara2 bolos itu gw di cut ya bilanglah dari sejak gw sakit... ngapain gw bela2in ngejar materi mandiri, nyanyi2 sendiri, belajar partitur sendiri dengerin mp3nya sendiri, bela2in datang latihan, kalau cuma buat di cut!!
*********!!!

mungkin gw emang harus istirahat :|
gw jadi males2an ngerjain semuanya..
tugas kuliah,
IEC,
Pendaftaran FPS,
pacaran,
MALAS BERAT...

Kemaren didit ngasih buku dengan judul "A Meditation for Woman Who Do Too Much"..

Do I need it??

Hidup itu kayak kotak coklat,,,
Walau rasa rum itu enak, tapi kalo dasarnya ga suka ya coklat rum ga bakal terasa enak.

Gw ga begitu suka rum.
Kotak coklatnya sekarang cuma produksi segambreng coklat rum buat gw!
huuhuhu....

pasca operasi

Di_rumah_sakit senin kemaren, gw operasi usus buntu.. operasinya jam 6 pagi.. gw sadar jam 10an dengan badan sakit semua dan muntah2 terus sampe mlm..

kata dokter, gerak peristaltik usus gw belum normal, jadi gw belum boleh makan.. huhuhuhu...

hari selasa, kepala gw sakit dan mual2.. masih belum boleh makan, cuma minum satu sendok makan teh manis sejam sekali.. huhuhu.. ternyata ada komplikasi dengan maag gw... setlah periksa ini itu,  antibiotik distop, tetep ga boleh mkan..

hari ini, hari rabu... akhirnya tadi siang boleh makan!!! hore... walaupun cuma dikit dan perutnya aga kaget plus kepala pusing, tapi gw senang bisa makan.. hohohoho... kalo kata dokternya, sepertinya ada masalah dengan antibiotik yang dikasih ke gw. jadi perut gw memberi reaksi yang ga baik terhadap antibitoik, makanya usus gw lambat recoverynya,,, begitu antibiotiknya distop, langsung baik deh ..hehehe..

besok uda boleh pulang.. hore,,,

kesimpulan:

operasi usus buntu itu ga enak!!! apalagi 24 jam setelah operasi... huek... ga enak banget...

sekali lagi teman2, jaga diri kalian... sakit beginian ga enak banget.. mahal pula.. :(

soal paskah - sampah - kekuasaan

Di gereja katolik, ada yang namanya Aksi Paskah Pembangunan (APP), suatu program berisi rangkaian kegiatan mulai dari doa, ibadah, aksi nyata, bisa apa aja tergantung dari tema yang diangkat tiap tahunnya.

Tahun ini yang diangkat adalah : Pedulikah saya dengan lingkungan saya??

Hmmm... kan di belakang apartemen gw itu masih perumahan penduduk dan ada kali yang melintas. Mungkin bukan kali ya, tapi saluran air yang super besar.. hahaha... Kalau sudah hujan besar, sering banjir! Si kali itu, walaupun besar dan lebar, tapi dangkal!! soalnya penduduk sekitar sering buang sampah di situ... :(

Oleh karena itu dilakukanlah pengerukan biar ga dangkal lagi. Ketika pengerukan selesai, pas banget hujan gede turun. Enak deh, aliran airnya jadi lebih kenceng karena sudah dikeruk dan ga ada sampah2 nyumbat lagi... nah, di tengah hujan, sambil bediri di tengah jembatan ngeliatin liran air, kok ada pemandangan aneh ya... Tiba2 dari sisi kanan kiri sungai, berterbangan plastik-plastik sampah,,, doeng..

Penduduk sekitar ditanya de.. kenapa sampahnya dibuang ke sungai bu??  ini jawabannya: 'kan lagi hujan, lagi gede aernya, jadi ya sampahnya cepet ilang'....

[gubrak]

ini masalah sikap! dan bagaimana mengubah sikap?

kondisi ekonomi seperti ini sangat menekan kalangan menengah ke bawah. hal2 sepele macam sampah ini pun sudah tidak dapat diselesaikan dengan akal etika, tapi asal mudah dan cepat..

****

ngomongin soal sampah.. kemarin dapat cerita yang lebih menyedihkan soal tpa di bojong... sumber terpercaya dah.. ini lebih parah... !!! selain ada tindak kekerasan terhadp warga yang menolak, untuk mendapat surat pernyataan bersedia dari warga, masing-masing warga dikasih duit 100rb!! incinerator yang uda dibangun katanya didesain dari jerman. kenyataannya: waktu orang dari jerman ninjau mereka bilang :'ini bukan desain kami!!'

parah... manipulasi desain --> anggaran di manipulasi juga dong --> duitnya buat siapa??

pantesan aja, di berita waktu itu, warga sekitar marah dan mereka merobohkan si incineratornya terus dipotong2 dan bajanya dijual. waktu gw nonton berita itu gw ngebatin : ' ya ampun, masyarakat sekarnag bener2 uda tertekan banget sampe ngerusak fasilias umum...' begitu gw tahu ternyata begitu ceritanya.... hadoh...

***

menyedihkan sekali ya kondisi kita!!! huhuhuhu... dan gw tadi baru baca kompas. jadi kompas wawancara bambang Sugiharto, "filsuf underground" hehehe.. dia berpendapat,, masalah kita ini memang kompleks...

kultur terjajah yang kita alami hampir 4 abad + hingar bingar demokrasi yang begitu membahana = kacau... ingin bebas berbicara tapi terjebak oleh sistem birokrasi yang bersifat menjajah itu.. jadinya, ya itu.. anarki...

"Dalam situsi seperti ini, mau tak mau kekuasaan menjadi menarik. Bukan karena orang bisa menguasai orang lain, tetapi karena kekuasaannya adalah privilege, hak isitimewa, bukan tanggung jawab".

[ini mungkin menjelaskan kenapa beberapa  mentri bisa2nya punya jabatan di tempat lain.. padahal jadi mentri kan kerjanya banyak buangt... :(]

tentang sang penghiburnya padi

setiap perkataan yang menjatuhkan

tak lagi ku dengar dengan sungguh

juga tutur kata yang mencela

tak lagi ku cerna dalam jiwa

aku bukanlah seorang yang mengerti

tentang kelihaian membaca hati

ku hanya pemimpi kecil yang berangan

tuk merubah nasibnya…

oh.. bukankah ku pernah melihat bintang

senyum menghiasi sang malam

yang berkilau bagai permata

menghibur yang lelah jiwanya

yang sedih hatinya

yang lelah jiwanya

yang sedih hatinya

ku gerakkan langkah kaki

di mana tempat akan bertumbuh

ku layangkan jauh mata memadang

tuk melanjutkan mimpi yang terutuh

masih ku coba mengejar rinduku

meski peluh membasahi tangan

lalah penat tak menghalangiku

menemukan bahagia

o… o…

bukankah ku pernah melihat bintang

senyum menghiasi sang malam

yang berkilau bagai permata

menghibur yang lelah jiwanya

yang sedih hatinya

yang lelah jiwanya

yang sedih hatinya

yang lelah jiwanya

oo..

bukankah ku bisa melihat bintang

senyum menghiasi sang malam

yang berkilau bagai permata

menghibur yang lelah jiwanya

bukankah hidup ada penghentian

tak harus kencang terus berlari

ku helakan nafas panjang

tuk siap berlari kembali…

berlari kembali..

melangkahkan kaki

menuju cahaya

bagai bintang yang bersinar

menghibur yang lelah jiwanya

bagai bintang yang berpijar

menghibur yang sedih hatinya

----------

lagu ini terlalu tajam untuk gw... ngedengerinnya sambil berbaring di rumah sakit pula... hiks... dan gw pikir mungkin gw harus berhenti berlari,,,, kan uda ketemu bintangnya.. huhuhuhu...

aarrrggghhh!!!

1. ternyata butterfly effect punya beberapa versi ending,, yang dia memilih balik ke rahim ibunya dan akhirnya mati.. itu sad ending yang gw tonton.. tapi ternyata ada hepi endingnya,,, di mana di amilih balik ek masa kecil waktu dia pertama kali kenalan ama ceweknya dan dia ngomong ke cewek itu kalo dia ga mau ketemu sama cewek itu. jadinya cewknya ikut ibunya, ga sama bapaknya, dan akhirnya semua bahagia... closingnya adalah ketika si cowok dan cewek uda kerja dan mereka papasan di jalan. cowoknya ngenalin, tapi di amilih diam, dan mereka pun berjalan saling menjauh,,,

huhuhuhu... dengan lagu oasis yang stop crying your heart out.. itu parah abis..

2. gua dioperasi usus buntu senin ini!! jadi setelah gw menjalani apendicogram [ di mana sebelumnya gw disuruh minum susu barium biar usus gw bisa keliatan pas dirontgen ] , usus buntu gw ga keliatan... tadinya gw seneng,, gw pikir ga ada radang usu buntu,,

tapi kata pak dokter, itu tandanya usu buntu gw tersumbat.. --> inilah cikap bakal radang usus buntu... so, begore it's too late.. cut it!!  papa bilang ga pa2.. mumpung dibayarin asuransi [!]

3. gw pikir setelah sakit parah ini gw harus memperbaiki hidup gw!! pola kuliah, pola makan, pola tidur, pola bergaul, pola pacaran.. dan entah kenapa itu sulit sekali.. belum telat untuk bikin resolusi 2008 kan??

4. suka padi!!! lagu padi bagus2... :)

diopname

du.. uda lama ga nulis blog, sekali-kalinya nulis kok beritanya gini ya,, :p

iya ni, gw baru pulang dari rumah sakit.. dari hari kamis, 6 maret sampai senin, 10 maret kemaren baru pulang.

Hari kamis dini hari suhu badan gw 39,8 derajat celcius, kayaknya sih lebih, 40 malah.. terus leukosit  darah gw tinggi betul. normalnya 10an, gw 17. jadi dicurigai infeksi. langsunglah diriku dibawa pulang mama ke jakarta dan dirawat di mmc..

begitu diperiksa di mmc, diperiksa lagi, ada indikator infeksi namnya crp (c-reactive protection) yang merupakan protein yang diproduksi liver kalo tubuh kita ada infeksi. nah, orang normal itu dibawah 3 jumlahnya dalam darah. waktu gw baru masuk, crp gw 31 :p.. terus kemaren waktu mau pulang masih 3.88...

rasanya? ga enak... harus diinfus, ga bisa cekakakan seenak jidat apalagi jalan2. karena gw ga bisa diem, bengkaklah tangan kiri gw yang diinfus dan dipindah ke tangan kanan... :(

sekarang udah pulang, tapi masih belum sehat betul ini, crpnya masih 3.88.. gw pulang karena mau ikut tes awal PTI doang, habis itu disuruh bedrest di rumah,, dokternya galak euy.. bokap gw diomongin kalau gw itu harus istirahat.. karena infeksi separah ini kalau ga dibarengin istirahat ga bakal sembuh bener.. doeng..

bokap langsuung membatalkan ijin keikutsertaan gw di program faststrack (lulus 5 tahun dgn program s1 & s2), nyuruh ngurangin kegiatan, terus pindah kosan yang lebih "elite". entah apa definisi dari elite ini... :(

kita menuai apa yang kita tanam. gw menuai apa yang uda gw lakukan.. kepanitian ini itu, kerjaan ini itu, pulang subuh, berangkat pagi, makan seenak jidat. some people made it through.. some didn't..

gw termasuk golongan kedua dan sempat down berat.. [diopname???? harga diri gua di mana!!!] gw mengevalusi diri gwlah... pasti gw emang udah ngaco parah ampe2 hukumannya sedudul ini.. :(

jadi kawan.. jagalah kesehatan :) mahal bo!!

berantem

kenapa ya.. gw selalu dan selalu saja berantem sama pacar. kayaknya banyak hal-hal yang bisa bikin gw marah,, padahal pacar yang ini baiknya luar biasa...

huhuhuhu...

terus,, kemaren parahnya pas lagi kulker... masak berantemnya direkam sama panca pake handycam.. ga lucu..

untung teman-temannya galak.. nyuruh gw baikan!!

arrgh... padahal kan baru 2 bulan.. kenapa berantemnya sering banget,,,

hiks..

high speed vs slow down

karena saya pikir saya adalah orang yang gahar dan kejam dan masteng...

saya suka bingung harus ngapain kalo pacar saya yang satu ini ga se"jahat" saya!!!!

iya sih, setiap orang memang punya cara masing-masing,,, tapi susahnya mengerti cara selow macam ini... aarrghhh,,,

PLTSa!

Kalau teman sekalian jalan-jalan di bandung sebulan terkahir ini, pasti akan sering ngeliat spanduk warna-warni dengan jenis font yang sama dan isi tulisannya :"warga kelurahan X mendukung pembangunan PLTSa di Gedebage".

Menurut gw sih, itu dibagiin ke kelurahan-kelurahan dan disuruh pasang oleh entah siapa..

memang kenapa dengan pembangunan PLTSa gedebage ini?

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, bandung punya masalah sampah yang keterlaluan. Incinerator adalah salah saru solusi yang ditawarkan. Incinerator adalah bahasa keren dari pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

Akhirnya, PLTSa pun direncanakan dibangung di Gedebage... Tapi, rencana pembangunan ini ditolak mentah-mentah oleh warga setempat. ITB sebagai pihak yang secara akadmeik berkompeten dimintai untuk menganalisa dan memberikan saran.

Entah siapa yang mulai, ahirnya pemkot Bandung selalu membawa-bawa ITB ketika rencana pembangunan ini diprotes warga. Jadi ya seolah-olah pembangunan PLTSa di Gedebage ini atas usulan ITB, padahal Gedebage dipilih karena kontraktor yang dipilih pemkot untuk megang proyek ini punya tanah cukup luas di sana!

Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK), unit tempat gua bernaung secara pemikiran, ga sepakat dengan rencana pembangunan PLTSa ini. Gua pribadi mengkritisi pembangunan PLTSa ini karena:

02gedebage1. Gedebage adalah wilayah cekungan dan daerahnya lumayan ramai. Incinerator menghasilkan asap akibat pembakarannya. Asap yang dihasilkan di daerah cekungan ga akan ke mana-mana. Yang ada, dia bakal "jalan2" di daerah sekitar situ dan mencemari organisme di sana. Gedebage itu wilayah pertanian juga setahu gue.

2. Gedebage juga punya masalah air.  Dibangunnya PLTSa di situ pasti akan menyebabkan perkara "rebutan air" antara warga sektiar dan PLTSanya.

3. Bila dipandang dari segi sistemnya, PLTSa kan memiliki input berupa sampah yang diolah sehingga menjadi listrik. Pembangunan PLTSa ini bisa saja malah menimbulkan kecenderungan "permintaan sampah" yang meningkat guna memaksimalkan fungsinya. Hal ini bertentangan dengan konsep 'mengurangi sampah'. Oiya, incinerator juga bukannya menghilangkan sampah lo, tapi mengubah sampah jadi bentuk lain, di mana proses pembentukannya dapat menghasilkan listrik.

Incinerator ini kalau nanti dibangun, akan punya minimal pasokan sampah per hai, kalau ga salah 500 ton. Terus untuk setiap tonnya dikenakan biaya 200ribuan. Berarti sehari harus keluar sekitar 100.000.000 rupiah. kalaupun pasokannya kurang dari 500ton, biaya minimal ini tetep harus dibayar.

4.Di luar sendiri, incinerator bukanlah preferensi utama pengolahan sampah. Kalaupun ada, incinerator didirakan di daerah terpencil, bukan daerah padat macam gedebage. Itu pun masih banyak yang protes soal bahaya yang disebabkan oleh asap hasil pengolahan sampahnya. Menurut gue sih, lebih  baik dukit sekian ratus m itu buat memperbaiki sistem pemilahan dan pembuangan sampah kota banduna yang amburadul ini.

Berangkat dari alasan di atas, PSIK menolak usulan pembangunan tersebut. Penolakannya diajukan tentu saja ke Pemkot Bandung. Penolakan ini pun dimua di beberapa media. [Search aja di google.] PSIK itu bagian dari ITB, padahal ITBlah yang dimintai tolong Pemkot untuk membantu menganalisa dan memberi masukan teknis tentang pembangunan PLTSa ini. Jadinya, PSIK kayak anak nakal. Singkat cerita, PSIK dipanggil rekotrat hari ini jam 2 di gedung Annex.

Dalam pertemuan itu diadakan diskusi antara PSIK, wakil rektor bidang akademik, dan Pak Ari, ketua Amdal nya. Amdal nya sudah selesai. Rektorat menjelaskan duduk perkaranya, bahwa ITB hanya dimintai tolong untuk memberikan kelebihan kekurang akan pembangunan PLTSa tersebut, dan keputusan untuk maju atau tidak bukan di tangan ITB tapi di tangan Pemkot Bandung. Di situ mereka juga menjelaskan teknis pengolahan dan sistem kerja PLTSanya. Soal asap dan air, katanya akan mengalami proses pengolahan sehingga tidak akan berbahaya lagi.

[PSIK disepetlah.. tidak akdemik, tidak ilmiah. Menyebalkan! Apakah kritsi itu tidak ilmiah? Kok ga senang sih punya mahasiswa yang berani bicara dan berani berpendapat...]

Logika kita dan rektorat lain. Menurut kita, ITB sebagai institusi pendidikan tentunya menyarankan tempat yang baik untuk dijadikan PLTSa. Tapi menurut rektorat, ITB hanyalah pihak yang disuruh menganalisa PLTSa yang akan dibangun di Gedebage. Titik. Bukan urusan ITB lah itu mau jalan atau enggak, yang jelas tugasnya ITB sudah beres. memberikan analisa, kelebihan kekurangan, dan saran-saran teknis.

Mau tau analogi jahat gua soal masalah ini?

Kalau ITB itu dokter, maka dokter ini adalah dokter yang disuruh menganalisa penggunaan obat maag untuk menyembuhkan sakit jantung. Soal benar atau tidak penggunaan obat maag tersebut terhdap penyakit jantung, itu bukan urusan sang dokter, karena dokter tersebut kan cuma disuruh bikin analisis sebagai bahan pertimbangan.

Pltsa_1 Kita tidak mewarisi alam dan lingkungan ini dari pendahulu kita, tapi kita meminjamnya dar anak cucu kita...

Ini masalah etika, ini masalah hati. Benar atau tidaknya, ini masalah hati.. Dan siapakah yang bisa mengajari kita soal kepekaan hati? yang pasti gua ragu jalan ganesha nomor 10  mengajari soal ini.

:(

memperbaiki bangsa ini (secuil pemahaman gw tentang teknik industri)

Sebentar lagi Indonesia masuk ke era pedagangan bebas. KOmentar-komentar negatif soal hal ini lebih kenceng terdengar di telinga gw dibanding komentar antusias.

Ya iyalah, secara kalau perdagangan bebas, apa yang mau didagangin Indonesia. Kita mroduksi apa sih? Kita ga punya barang jadi yang bener-bener jadi kekuatan kita. Lebih banyak barang-barang perlengkap saja macam perhiasan dan barang kerajinan. ATau ya itu, pengimpor barang mentah.

Dosen gw pernah bilang, yang paham mengenai seluk beluk manufaktur paling enggak cuma dua: orang mesin atau orang teknik industri (TI). Maksudnya seluk beluk ya terkait dengan manajemen suatu proses produksi, mulai dari pengadaan, penjadwalan, efisiensi, quality control. dll. Tapi kenyataannya, dari sekian alumni TI, yang terjun ke dunia manufaktur cuma sekian persen. dikit. Jadi ya wajar sajalah kalau dunia manufactur kita gitu2 aja. Ga ada sensasinya..

Mahasiswa TI sebagian besar awalnya memilih Tekni Industri karena inilah jurusan IPA yang bisa ada IPS nya. Selain itu, lulusan TI bisa kerja di mana saja. Jadi di TI belajar apa??

Sederhana. Tekni Industri mengajarkan mahasiswanya untuk dapat merancang, menganalisa, memperbaiki suatu sistem. Logika untuk problem solving masalah apapun yang disusun secara sistematis dan terintegrasi. TI ITB memilih sistem manufaktur sebagai sistem contoh karena sistem manufaktur dianggap sistem yang memiliki elemen-elemen yang lengkap. Mulai dari sisi manusia, mesin, material, duit, dkk. Ketika lulus, diharapkan para alumni mahaisswa TI ini dapat menerapkan logika berpikir sistematik tersebut di bidang apapun: bank, sekolah, rumah sakit.

Ironisnya, manufaktur yang dijadikan permodelan malah tidak menjadi favorit. Karena? Kerja di manufaktur bukan kerja ala kantoran dengan blazer sepatu tinggi dan parfum mahal.. xp Hahaha..

Lalu, ke mana larinya para alumni2 TI pada khususnya dan alumni teknik ITB selama 2 dekade ini. Tega-teganya menjadikan kondisi bangsa seperti ini?? Sebagian dari mereka tampaknya lebih suka kerja di perusahan asing multinasional.. Aneh.. padahal kerjaan perusdahaan multinasional itu kan sama kayak BUMN ato perusahaan pemerintah... Lagi-lagi ya itu,, masalah duit.

Kesimpulan gw:
1. ITB sebagai perguruan tinggi Indonesia telah gagal menanamkan sikap kebngsaan dan nasionalisme sehingga menyebabkan kondisi seperti ini.

2. Manufaktur adalah salah satu roda utama perekonomian kita yang sedang terpuruk. Kalau bukan kita yang mau mengatasi dan mau nyemplung untuk bersusuah-susah di situ, siapa lagi? (walaupun harus berhadapan dengan kecurangan, ketidak adilan.. arrgh, banyak hal memuakkan di situ.. :(..)

3. BUMN di Indonesia harusnya bisa lebih mempopulerkan derajat mereka di mata para alumni muda sehingga kerja di pemerintah menjadi suatu gengsi.

4. ITB juga harus memberikan motivas pada para mahasiswanya untuk bekerja pada bangasa dan negara. ALumni cepet dapet kerja tapi jadi parasit sama aja NOL besar!!! jangan bikin career day buat perusahaan asing aja.. Bikin dong Carier Day khusus buat perusahaan nasional Indonesia!!

Fiuh... berat sih.. Tapi apa sih yang ga berat... Mau ngeliat Indonesia jadi kayak etiopia?? Kalu ga salah etiopia dan korea duu punya GNP yang sama. Sekarang liat bedanya.

Ayo orang2 yang masih merasa pintar, tapi belum nasionalis.. hiks.. kita butuh nasionalis yang pintar, taktis, dan kongkrit.. bukan cuma nasionalis yang jago ngomong dan emosian..!!!

ga mau

saya ga mau punya suami yang sifatnya seperti ayah saya.

fiuh.

lalu? kenapa berjuang?

Dulu waktu masih kecil, saya percaya bahwa semua orang itu baik. Dan saya juga percaya bahwa semua orang senang kedamaian dan mau berkorban untuk sesama. Saya tumbuh besar dan mulai bekernalan satu per satu dengan kekejaman dunia.

Ketika saya mulai belajar mengabdikan diri untuk orang lain saya begitu tersenetak kaget karena tidak semua orang senang dan bangga melihat apa yang saya lakukan. Termasuk keluarga saya sendiri. Puncaknya tahun 2004 akhir, saya imarahi karena lebih memilih nongkrong di posko aceh daripada diam di rumah. Saya nangis sepanjang jalan pulang, tidak terima mengapa bisa kejadian seperti itu.

Sejak itu saya tahu, mereka yang memilih jalur keras adalah kelainan-kelainan yang bergerak-gerak bebas. Saya selalu mengagumi mereka dan jatuh hati pada mereka. Dan begitulah saya menyaksikan (dan kadang merasakan) kesuksesan dan kekecewaan yang timbul tenggelam. Saya lebih banyak kecewa. :( lalu saya sampai di satu titik kritis itu.

"njing, kalau buat ngurusin orang-orang gila macam ini, ngapain gw di sini??!!!"

[perjuangan?? taik kucing...]

dan hati saya tetap di situ.. hanya hati tapi. tenaga dan pikiran masih jalan2.. hohohoho.. x)

---

Banyak orang bilang, mencintai tidak butuh alasan. Dan itulah akhirnya, berjuang tidak butuh alasan karena pada dasarnya, berjuang adalah bentuk cinta yang paling dalam pada kehidupan ini. Bila dunia tidak sebegitu mengerikan seperti ini saya yakin untuk mencintai tidak butuh perjuangan, karena mencintai adalah kehidupan sehari-hari.

Berjuang tidak butuh alasan apa pun selain karena cinta akan kehidupan. Kalau berjuang yang berlandaskan kebencian? yah, beberapa memang berjuang karena kebencian. Tapi bukankah kebencian juga berangkat akan kecintaan atas sesuatu jua?

Apakah yang kamu cintai hingga kamu ingin berjuang? Dan semenjak cinta itu satu arah dan tak menuntun balas, maka cinta sudah cukup menjadi alasan untuk berjuang. Titik Habis. Saya mencintai kehidupan. Saya masih berusaha menegarkan diri untuk berjuang..

---

hangat

berputar-putar di antara angin kelabu
ia memainkan jari-jarinya
semakin lama semakin dalam
namun tidak pernah selesai

inikah surga itu?
mengapa rasanya hambar?

awan hanyalah bentuk perkasa dari air
karena air itu hanya cairan bening yang bisa diinjak-injak
toh ketika hujan akan kembali jadi air

seperti kehidupan yang datang terus menerus
yang dimatikan dengan sekali sapuan

kalau memang pencinta kehidupan
mengapa harus ada penderitaan dan penyiksaan?

mungkin sekarang dia tertawa bermain dadu

aarggh.,
taaeekklah...